Otoritas Jasa Keuangan menyatakan bahwa keberadaan bank asing di Indonesia memberikan kontribusi signifikan terhadap perkembangan industri jasa keuangan nasional, terutama melalui penyaluran kredit valuta asing dan fasilitas investasi langsung.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae pada Senin (18/5/2026), seperti dilansir dari Keuangan. Peran strategis ini mencakup dukungan untuk aktivitas ekspor-impor serta pembiayaan proyek-proyek berskala besar di tanah air.
ÔÇ£Keberadaan institusi perbankan dengan afiliasi regional maupun global diharapkan dapat memberikan kontribusi positif bagi pengembangan industri jasa keuangan nasional,ÔÇØ ujar Dian Ediana Rae, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK.
Dian Ediana Rae menambahkan bahwa institusi perbankan global tersebut turut membantu penguatan alternatif struktur pendanaan di Indonesia. Regulasi dan pengawasan tetap berjalan di tengah struktur industri yang saat ini masih didominasi oleh kelompok Himpunan Bank Milik Negara (Himbara).
"Bank asing juga berperan dalam menganalisis dan memitigasi risiko investasi serta memperkuat alternatif struktur pendanaan sehingga memberikan keyakinan bagi investor," jelas Dian Ediana Rae, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK.
Di tengah situasi tersebut, PT Bank Danamon Indonesia Tbk dan MUFG Bank Ltd sedang menjajaki integrasi operasional yang berpotensi melahirkan entitas dengan total aset gabungan sekitar Rp 489,15 triliun. Per Maret 2026, aset konsolidasian Danamon tercatat Rp 279,93 triliun dan MUFG Indonesia sebesar Rp 209,22 triliun.
Pertumbuhan kinerja Danamon pada kuartal I-2026 mencatatkan laba bersih sebesar Rp 1,1 triliun atau meningkat 35 persen secara tahunan. Penyaluran kredit dan trade finance perseroan juga tumbuh 9 persen menjadi Rp 216,2 triliun.
"Danamon berkomitmen tetap menjadi penyedia solusi finansial yang mendapatkan kepercayaan nasabah serta terus berkontribusi terhadap pertumbuhan perekonomian Indonesia," ujar Nobuya Kawasaki, Direktur Utama Danamon.
Aksi korporasi lain dilakukan oleh PT Bank OCBC NISP Tbk yang mengakuisisi bisnis retail banking dan wealth management HSBC Indonesia dengan total asset under management (AUM) sekitar Rp 89,8 triliun. Transaksi ini ditargetkan rampung pada kuartal II-2027.
OCBC Indonesia sendiri membukukan laba bersih Rp 1,36 triliun pada kuartal I-2026 dengan total aset mencapai Rp 312,9 triliun. Langkah akuisisi ini diproyeksikan mendongkrak saldo kartu kredit perseroan hingga lebih dari 150 persen.
"Kami melihat momentum pertumbuhan yang tetap terjaga di awal tahun 2026, baik dari sisi intermediasi maupun penghimpunan dana," ujar Parwati Surjaudaja, Presiden Direktur OCBC Indonesia.
Sementara itu, PT Bank CIMB Niaga Tbk mencatatkan laba bersih Rp 1,76 triliun pada kuartal I-2026, atau mengalami penurunan sebesar 2,22 persen secara tahunan. Total aset konsolidasian manajemen mencapai Rp 368,2 triliun per Maret 2026.
Pihak manajemen menjelaskan bahwa seluruh segmen bisnis dari korporasi hingga UMKM tetap digarap secara menyeluruh sebagai universal bank.
"Sampai kuartal I tahun ini kinerja kami baik dan sesuai target financial," ujar Lani Darmawan, Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk.
Lani Darmawan mengakui adanya tekanan terhadap margin bunga akibat permintaan kredit yang cenderung lemah. Oleh karena itu, perusahaan mengalihkan fokus untuk memperbesar pendapatan berbasis komisi atau fee based income.
"Kami fokus di pendapatan non bunga atau fee income untuk menggantikan kekurangan dari pendapatan bunga sehingga fee income ratio sudah mencapai di atas 33%," jelas Lani Darmawan, Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk.
Di sisi lain, PT Bank Oke Indonesia Tbk memilih strategi pertumbuhan yang selektif pada segmen korporasi dan komersial. Laba bersih OK Bank melonjak 112,54 persen secara tahunan menjadi Rp 64,67 miliar pada kuartal I-2026.
Aset OK Bank tumbuh menjadi Rp 13,73 triliun dengan penyaluran kredit sebesar Rp 10,44 triliun. Manajemen optimistis ruang ekspansi perbankan di Indonesia bagi institusi asing masih terbuka lebar.
"Kami fokus pada segmen korporasi dan komersial, sekaligus tetap mengembangkan portofolio ritel dengan prinsip risiko yang terkendali," ujar Efdinal Alamsyah, Direktur Kepatuhan PT Bank Oke Indonesia Tbk.
Efdinal Alamsyah menambahkan bahwa manajemen terus memperluas pasar melalui efisiensi operasional dan penguatan kualitas layanan. Langkah ini diambil guna menghadapi kompetisi industri yang semakin ketat.
"Ruang ekspansi tetap besar meskipun kompetisi ketat. Kami memperluas pasar melalui pemilihan segmen yang tepat, penguatan kualitas layanan, dan operasional yang efisien," katanya Efdinal Alamsyah, Direktur Kepatuhan PT Bank Oke Indonesia Tbk.