Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai langkah rebalancing indeks global yang dilakukan oleh MSCI menjadi momentum krusial untuk mempercepat reformasi struktural di pasar modal dalam negeri. Langkah ini diambil guna mendongkrak kualitas transparansi, likuiditas, serta integritas pasar.
Seperti dilansir dari Investortrust, MSCI telah mempublikasikan hasil review indeks pada 12 Mei 2026 yang merombak komposisi emiten di wilayah Asia Pasifik, termasuk emiten asal Indonesia.
ÔÇ£Perkembangan ini menjadi perhatian dan dapat mempengaruhi sentimen serta arus modal investor dalam jangka pendek. Namun bagi kami di OJK, rebalancing index global tersebut harus dipandang secara positif sebagai bagian dari dinamika pengenalan standar global terkait market accessibility, transparency, likuiditas, dan juga investability,ÔÇØ ujar Kepala Departemen Penilaian Emiten, Perusahaan Publik, dan Perizinan Keuangan Derivatif serta Bursa Karbon OJK, I Made Bagus Tirthayatra dalam sambutannya di ajang The Best Investortrust Companies 2026 di Jakarta, Selasa (26/5/2026).
I Made Bagus Tirthayatra menjelaskan bahwa dinamika ini harus dimanfaatkan untuk mengakselerasi pembenahan pasar saham Indonesia secara terukur, kredibel, dan berkelanjutan.
ÔÇ£Kita ingin membangun kondisi pasar yang tidak hanya mengejar pertumbuhan ukuran tetapi juga menekankan pada kualitas transparansi, free float, struktur kepemilikan, likuiditas, serta integritas pasar,ÔÇØ katanya.
Komitmen pembenahan ini sebenarnya telah berjalan sejak Februari 2026 lewat peluncuran delapan rencana aksi percepatan reformasi integritas pasar modal Indonesia. Beberapa program yang sudah rampung meliputi penguatan transparansi data kepemilikan saham, peningkatan granularitas klasifikasi investor, hingga peningkatan porsi free float.
Menurut I Made Bagus Tirthayatra, fase penilaian ulang seperti ini juga pernah dialami oleh negara lain seperti India dan Hong Kong. Melalui keterbukaan informasi yang konsisten, pengawasan konsentrasi kepemilikan saham, dan pengendalian risiko yang ketat, negara-negara tersebut berhasil memulihkan kepercayaan investor global.
ÔÇ£Oleh karena itu, OJK bersama dengan SRO, BEI, KPEI, KSEI tengah mempersiapkan sejumlah inisiatif penguatan kebijakan ke depan,ÔÇØ ujarnya.
Regulator bersama Self Regulatory Organization (SRO) saat ini tengah mematangkan lima fokus utama untuk memperkuat ekosistem pasar modal domestik.
Poin pertama adalah peningkatan likuiditas pasar melalui simplifikasi prosedur aksi korporasi untuk pemenuhan free float secara fleksibel. Langkah ini dibarengi penyusunan strategi voluntary maupun forced listing yang tetap mengutamakan perlindungan investor. Bursa Efek Indonesia (BEI) bahkan telah menyediakan hotdesk information serta pendampingan khusus bagi emiten.
Fokus kedua diarahkan pada penguatan kualitas emiten dan tata kelola (governance). OJK memperketat persyaratan pencatatan di seluruh papan perdagangan, mulai dari papan utama, pengembangan, akselerasi, pemantauan khusus, hingga papan ekonomi baru.
Ketiga, peningkatan market accessibility dan transparency dengan menyediakan halaman khusus di situs resmi BEI terkait data free float, transparansi kepemilikan, serta konsentrasi saham. OJK juga sedang mengkaji penyediaan data dividen tambahan dan memperkuat keterbukaan informasi bilingual dalam bahasa Indonesia dan Inggris.
Keempat berkaitan dengan penguatan struktur serta efisiensi pasar melalui evaluasi total mekanisme transaksi di pasar reguler dan negosiasi. Kebijakan ini bertujuan memitigasi risiko asymmetric information serta transaksi terkoordinasi.
Poin kelima difokuskan pada penegakan hukum dan manajemen risiko. OJK memperkuat sistem pengawasan melalui peningkatan kualitas data investor, flag risiko emiten, hingga pemantauan beneficial owner untuk deteksi dini risiko pasar.
ÔÇ£Reformasi ini tidak dapat berjalan secara optimal tanpa dukungan dari seluruh stakeholder, terutama para emiten. Emiten dengan tata kelola yang baik dan kinerja yang transparan adalah pilar utama dari kredibilitas pasar modal kita,ÔÇØ tutur Made.
OJK bersama SRO menegaskan akan terus membangun komunikasi dan engagement konstruktif dengan global index provider, investor institusi, serta pelaku pasar agar arah reformasi ini berjalan selaras dengan global best practices.