OJK Nilai Valuasi Saham Indonesia Lebih Murah dari Bursa Regional

OJK Nilai Valuasi Saham Indonesia Lebih Murah dari Bursa Regional
Foto: Ilustrasi OJK Nilai Valuasi Saham Indonesia Lebih Murah dari Bursa Regional.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan valuasi harga saham di Indonesia saat ini relatif lebih murah jika dibandingkan dengan bursa saham di kawasan Asia maupun Asia Tenggara pada pertengahan Mei 2026. Penegasan ini muncul di tengah tekanan pasar akibat perubahan komposisi indeks global.

Dilansir dari Money, rata-rata rasio harga terhadap laba atau Price to Earning Ratio (PER) pasar modal domestik berada di bawah rerata regional. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia per 12 Mei 2026, PER pasar saham tercatat di level 14,98 kali dengan rasio Price Book Value (PBV) IHSG sebesar 1,90 kali.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Hasan Fawzi, mengungkapkan bahwa posisi PER saat ini sudah mengalami penurunan signifikan dibandingkan periode awal tahun. Penurunan ini dinilai sebagai peluang bagi para pemodal untuk memperkuat portofolio mereka.

"PER IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) sekarang berada di level 16 kali. Ini sudah jauh di bawah posisi pada saat terjadi all time high di pertengahan Januari 2026, bahkan di bawa rata-rata bursa lainnya," kata Hasan.

Hasan menambahkan bahwa situasi pasar saat ini merupakan waktu yang tepat bagi investor untuk masuk ke pasar modal. Ia menyarankan pemilihan saham dilakukan berdasarkan prospek pemulihan kinerja perusahaan ke depan.

"Investor dapat memanfaatkan momentum ini untuk masuk di pasar dan memilih saham-saham terbaik, yang secara prospektif dapat terus melakukan katakanlah perbaikan kinerja dari waktu-waktu ke depannya," jelasnya.

Meskipun valuasi dianggap menarik, pasar modal Indonesia menghadapi tantangan setelah 19 emiten didepak dari indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI). Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menekankan bahwa kondisi tersebut merupakan fenomena global di wilayah Asia Pasifik.

"Fenomena ini juga tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi terjadi di hampir seluruh pasar Asia Pasifik pada review kali ini," jelasnya.

Friderica menyebutkan bahwa MSCI menggunakan parameter ketat seperti kapitalisasi pasar, likuiditas, dan free float dalam melakukan tinjauan berkala. Perubahan posisi emiten dalam indeks tersebut dianggap sebagai bagian dari mekanisme pasar yang objektif.

"Perubahan komposisi indeks MSCI merupakan bagian dari mekanisme review berkala yang didasarkan pada sejumlah parameter objektif seperti market capitalization, free float, likuiditas, dan dinamika harga saham," jelasnya.

Langkah evaluasi ini menjadi momentum bagi regulator untuk terus memperkuat daya saing pasar domestik di level internasional. OJK berkomitmen untuk terus meningkatkan standar tata kelola dan basis investor di Indonesia.

"OJK bersama seluruh pemangku kepentingan akan terus mendorong penguatan integritas pasar, peningkatan free float dan likuiditas, perluasan basis investor, serta penguatan tata kelola emiten agar daya saing pasar modal Indonesia semakin kuat dan berkelanjutan," katanya.

Artikel terkait

Rekomendasi