Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa hari terakhir masih selaras dengan tren koreksi bursa saham di wilayah regional. Keterangan tersebut disampaikan dilansir dari Media Indonesia dalam konferensi pers di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, pada Selasa (19/5).
Faktor eksternal seperti ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta proyeksi kebijakan moneter global yang tetap ketat menjadi pemicu utama dinamika ini. Pada pembukaan perdagangan hari itu, IHSG langsung tertekan ke zona merah pada level 6.599,213 dan merosot 0,35 persen ke posisi 6.575,822 hingga pukul 09.25 WIB.
Selain faktor global, sentimen domestik berupa penyesuaian bobot portofolio atau rebalancing dari MSCI yang diumumkan pada 12 Mei waktu Amerika Serikat turut memengaruhi pasar. Dampak ini masih terasa saat pasar saham kembali beroperasi setelah melewati masa libur panjang.
"Kami melihat banyak juga bursa-bursa lain yang turunnya juga malam lebih dalam. Kalaupun ada yang naik itu naik tipis pada hari ini," kata Friderica Widyasari Dewi, Ketua Dewan Komisioner OJK.
Pihak otoritas mencatat koreksi indeks masih berada dalam tahapan wajar. Pada hari pertama pengumuman MSCI, pelemahan tercatat sebesar 1,98 persen, diikuti penurunan sebesar 1,85 persen pada 18 Mei setelah libur bursa usai.
"Namun kalau kita lihat pelemahannya itu masih moderat, yaitu di 1,98% pada hari pertama pengumuman MSCI, dan juga kemarin di 1,85% di 18 Mei setelah libur panjang," ungkap Friderica Widyasari Dewi.
OJK menegaskan bahwa situasi ini merefleksikan pergerakan yang berbasis pada nilai fundamental perusahaan. Pola pergerakan IHSG saat ini dinilai telah sejalan dengan sejumlah indeks acuan utama seperti LQ45, IDX30, dan IDX80.
"Jadi kita melihat pergerakan indeks kita sudah lebih secara fundamental, dan juga sekarang IHSG pergerakannya juga relatif sejalan dengan indeks acuan MSCI, maupun subindeks utama seperti LQ45 dan juga IDX30 dan juga IDX80," paparnya Friderica Widyasari Dewi.
Mekanisme pembentukan harga di pasar saham kini lebih ditopang oleh kinerja riil emiten dibandingkan dengan isu atau sentimen sesaat. Kondisi tersebut dipandang sebagai sinyal positif dari rangkaian pembenahan struktur pasar modal.
"Ini mencerminkan price discovery yang lebih fundamental di mana pergerakan saham lebih dipopang oleh aspek fundamental dibandingkan oleh sentimen semata. Jadi ini menurut kami juga sangat baik perbaikan-perbaikan yang dilakukan," jelasnya Friderica Widyasari Dewi.
Di sisi lain, sektor industri pengolahan dana menunjukkan kinerja positif dengan pertumbuhan Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksadana sebesar 6,39 persen atau tumbuh Rp49,71 triliun. Total dana kelolaan atau asset under management (AUM) kini menyentuh angka Rp718,44 triliun.
Pertumbuhan juga terlihat dari sisi partisipasi masyarakat yang ditandai dengan penambahan jumlah investor ritel baru secara signifikan. Data tahun berjalan mencatatkan pertumbuhan hingga jutaan investor domestik yang masuk ke pasar finansial.
"Ditandai dengan peningkatan 7 juta investor retail baru di pasar modal kita, year to date penambahannya sudah 7 juta investor baru di pasar modal Indonesia," ungkap Friderica Widyasari Dewi.
Langkah penataan pasar modal ke depan akan terus difokuskan pada penguatan integritas serta aspek keterbukaan informasi. OJK berkomitmen menjaga keseimbangan antara pertumbuhan volume pasar dengan kualitas fundamentalnya.
"Jadi reformasi ini diarahkan untuk memastikan bahwa pasar keuangan Indonesia tidak hanya berkembang dari sisi ukuran, market size, tetapi juga kita kedepankan dari aspek fundamentalnya, integritas, keterbukaan, dan lain-lain," pungkas Friderica Widyasari Dewi.