Suara peluit melengking pelan terdengar dari trotoar depan Stasiun Depok Baru, Selasa (5/5/2026) siang. Bunyinya samar, tetapi cukup membuat beberapa orang menoleh, seolah membangkitkan memori lama di tengah riuh kendaraan dan langkah penumpang yang berkejaran mengejar kereta.
Di antara lalu-lalang pekerja kantoran, pedagang gorengan, dan pengemudi ojek online, seorang pria berkaus lusuh mendorong gerobak kecil berisi mainan anak. Di atas gerobak itu berjejer pistol gelembung sabun, slime, gantungan tas, balon karakter, hingga kipas LED kecil yang berkelap-kelip. Bagi sebagian anak, gerobak itu sekadar tempat membeli hiburan murah sepulang sekolah atau sebelum pulang ke rumah. Namun bagi sebagian orang dewasa, benda-benda tersebut memantik sesuatu yang lebih dalam yakni nostalgia masa kecil.
Di sudut trotoar, seorang ibu muda menggenggam tangan anaknya yang terus menatap pistol gelembung sabun. Tak jauh dari sana, seorang pria paruh baya yang baru turun dari kereta berhenti sejenak menatap mainan putar kecil sambil tersenyum tipis. Pedagang mainan keliling rupanya tidak sekadar menjual barang. Mereka juga menjual pengalaman dan ingatan masa kecil yang perlahan menghilang dari kota yang bergerak semakin cepat.
Di kawasan Stasiun Depok Baru, Rizka (34) baru saja membeli pistol gelembung sabun dan balon kecil untuk anak laki-lakinya yang berusia lima tahun. Anaknya menggenggam mainan itu erat-erat, seolah takut diambil kembali. Menurut Rizka, keputusan membeli mainan dari pedagang keliling sering terjadi secara spontan. Namun, ada alasan personal di balik kebiasaan itu. Ia mengaku suara peluit pedagang mainan langsung membawanya pada kenangan masa kecil.