Nostalgia Gaul Blok M: Tempat Pamer Mobil hingga Hunting Buku Paling Populer 2026

Nostalgia Gaul Blok M: Tempat Pamer Mobil hingga Hunting Buku Paling Populer 2026
Foto: Nostalgia Gaul Blok M: Tempat Pamer Mobil hingga Hunting Buku Paling Populer 2026. (Illustration by Pexels)

Wajah kawasan Blok M yang belakangan ini kerap menghiasi lini masa media sosial terasa sangat kontras bagi mereka yang pernah mencicipi masa jayanya di era 1990-an hingga awal 2000-an. Jika saat ini publik dimanjakan dengan armada TransJakarta yang sejuk, dahulu pemandangan didominasi oleh bus Metro Mini yang penuh sesak dan berkarat.

Cerita mengenai Blok M memang selalu menarik untuk dikulik karena kawasan ini menjadi saksi bisu perkembangan gaya hidup masyarakat perkotaan dari masa ke masa. Dhani, seorang pria berusia 40 tahun, mengenang betapa hiruk pikuknya terminal Blok M saat itu yang selalu dipenuhi oleh berbagai angkutan kota.

Ia menceritakan pengalamannya saat masih duduk di bangku sekolah dasar ketika pergi ke Blok M bersama keluarganya menggunakan Metro Mini dari arah Tanah Kusir. Satu hal yang paling melekat dalam ingatannya adalah deretan bus dan angkot yang tampak kurang terawat dan dipenuhi karat besi.

Dhani berseloroh bahwa jika seseorang tergores badan bus tersebut, mereka mungkin bisa terkena penyakit tetanus akibat kondisi fisiknya yang memprihatinkan. Belum lagi kepulan asap hitam pekat dari mesin bus yang tetap dibiarkan menyala saat sedang menunggu penumpang atau ngetem di dalam terminal.

Kenangan serupa juga dimiliki oleh Tyo yang kini berusia 34 tahun, di mana ia tidak bisa melupakan pengalaman mendebarkan saat menaiki Metro Mini menuju pusat pergaulan Jakarta Selatan tersebut. Baginya, kenyamanan bus TransJakarta saat ini sangat jauh berbeda dengan sensasi naik bus di masa lalu yang penuh dengan tantangan.

Penumpang Metro Mini kala itu harus memiliki kesabaran ekstra menghadapi sopir yang ugal-ugalan serta kewaspadaan tinggi terhadap aksi pencopetan di dalam kendaraan. Kondisi bus yang seringkali melebihi kapasitas dan terasa sangat panas membuat perjalanan menuju Blok M menjadi perjuangan tersendiri bagi para penggunanya.

Tyo bahkan mengibaratkan pengalamannya naik Metro Mini jurusan 69 rute Blok M-Ciledug seperti sedang mempertaruhkan nyawa karena kecepatannya yang luar biasa. Ia sering kali merasa bus sudah melaju kembali padahal kakinya belum sepenuhnya menapak ke tanah saat hendak turun di lokasi tujuan.

Walaupun harus melalui perjuangan yang cukup berat, Tyo mengaku tidak pernah merasa kapok untuk terus mengunjungi kawasan Blok M secara rutin. Ketertarikannya didasari oleh akses yang mudah dijangkau serta kelengkapan fasilitas yang ditawarkan oleh kawasan tersebut bagi anak muda di zamannya.

Menurutnya, Blok M menyediakan segala kebutuhan mulai dari transportasi antardaerah di terminal hingga pilihan tempat belanja yang sangat beragam untuk berbagai kelas sosial. Plaza Blok M hadir sebagai destinasi belanja yang mewah, sementara Mall Blok M menawarkan suasana yang lebih merakyat bagi para pengunjung setianya.

Selain pusat perbelanjaan formal, pedagang kaki lima di kawasan tersebut juga menjadi daya tarik utama karena menyediakan berbagai jenis barang kebutuhan. Mulai dari barang baru, barang bekas berkualitas, hingga produk bajakan bisa ditemukan dengan mudah oleh para pengunjung yang datang ke sana.

Tempat Pamer Kendaraan hingga Surga Pecinta Buku

Meskipun sudah akrab dengan Blok M sejak kecil, Dhani sempat melalui fase di mana ia justru berusaha menghindari kawasan strategis tersebut dalam kesehariannya. Hal ini dikarenakan ia bersekolah di SMAN 29 Jakarta yang pada waktu itu memiliki rivalitas cukup tinggi dengan SMAN 6 dan SMAN 70 Jakarta.

Ia merasa khawatir akan menjadi sasaran pemalakan jika nekat bermain ke wilayah kekuasaan sekolah rival tersebut tanpa persiapan atau teman yang banyak. Namun, ketakutan itu perlahan menghilang saat ia memasuki masa kuliah dan kembali menjadikan Blok M sebagai tempat favorit untuk bersosialisasi.

Dhani menjelaskan bahwa bagi kawula muda Jakarta Selatan yang sudah membawa kendaraan pribadi, pilihan tempat nongkrong utama biasanya hanya ada dua, yakni Senayan atau Blok M. Senayan, khususnya di sepanjang Jalan Asia-Afrika, lebih sering dimanfaatkan sebagai lokasi balap liar oleh para pemuda yang gemar memacu adrenalin.

Berbeda dengan Senayan, Blok M lebih dipilih sebagai lokasi untuk bersantai sembari memamerkan modifikasi mobil yang mereka miliki kepada pengunjung lainnya. Kawasan gultik atau gulai tikungan menjadi titik kumpul paling hits bagi mereka yang ingin menunjukkan eksistensi kendaraannya di pinggir jalan.

Beberapa alasan mengapa gultik menjadi sangat populer di masa lalu adalah sebagai berikut:

  • Memberikan ruang bagi komunitas mobil untuk memarkirkan kendaraan mereka secara berjejer di sepanjang area tikungan.
  • Menjadi ajang pamer atau show off modifikasi kendaraan di depan publik dan sesama pecinta otomotif.
  • Menyediakan porsi makanan yang dahulunya dianggap sangat mengenyangkan dengan harga yang relatif terjangkau.
  • Menawarkan suasana nongkrong yang khas Jakarta Selatan dengan interaksi sosial yang sangat dinamis.

Sayangnya, Dhani merasa porsi gultik saat ini sudah jauh berkurang dibandingkan dahulu, ditambah dengan jumlah pedagang yang kini kian menjamur di berbagai sudut. Sementara itu, Tyo justru memiliki memori yang lebih mendalam mengenai kegiatan mencari buku di sudut-sudut tersembunyi kawasan Melawai.

Tyo sering menyambangi Gramedia Melawai yang gedungnya kini telah beralih fungsi menjadi Kopi Aloo atau pusat pelatihan Santika untuk mencari literatur terbaru. Perjalanan menuju gedung berlantai empat itu bukanlah hal mudah karena ia harus melewati kerumunan orang di Jalan Melawai 3 yang sangat padat.

Pasar kaget dengan atap terpal yang rendah membuat sirkulasi udara menjadi buruk dan suhu di sekitar lokasi terasa sangat menyengat bagi pejalan kaki. Aroma keringat yang bercampur dengan debu jalanan menjadi sensasi yang tidak terlupakan bagi Tyo setiap kali ia memutuskan untuk mencari buku di sana.

Selain toko buku besar, Tyo juga gemar menelusuri lantai dasar Mall Blok M untuk berburu buku bekas melalui akses yang terhubung langsung dengan terminal. Tempat ini menjadi andalan utama bagi dirinya saat masih sekolah ketika mendapat tugas untuk membuat kliping dari berbagai majalah dan surat kabar lama.

Tyo juga mengungkapkan sisi lain dari toko-toko buku di basement Mall Blok M yang ternyata banyak menyediakan komik dengan konten dewasa atau hentai. Saat masih duduk di bangku SMP, banyak rekan sebayanya yang sengaja datang ke sana hanya untuk membeli komik-komik tersebut secara sembunyi-sembunyi.

Transformasi Menjadi Pusat Kreativitas dan Kuliner Viral

Gadis Hilmi Nabiilah Rose, seorang perantau dari Surabaya, memberikan sudut pandang yang berbeda mengenai perubahan wajah Blok M sejak ia menetap di Jakarta tahun 2016. Pada masa awal kuliahnya, ia mengingat Plaza Blok M sebagai sebuah mal yang memiliki pencahayaan cukup redup dan terkesan kurang modern.

Jumlah tempat nongkrong yang estetik belum sebanyak sekarang, di mana salah satu tempat yang paling ramai saat itu adalah Join Kopi di Jalan Bulungan. Gadis sempat merasa heran mengapa banyak orang rela berdesakan di warung kopi tersebut padahal fasilitas tempat duduknya sangat terbatas hingga ke trotoar.

Kini, ia melihat atmosfer Blok M telah bertransformasi total menjadi kawasan yang penuh dengan destinasi kuliner viral dan tempat nongkrong yang dijuluki sebagai hidden gem. Gadis kini lebih sering berkunjung ke Blok M bukan sekadar karena dekat, melainkan karena memang ingin menikmati suasana barunya.

Blok M saat ini juga dianggap sebagai ruang aman bagi banyak orang untuk mengekspresikan diri melalui gaya berpakaian yang unik dan nyentrik. Kemudahan akses transportasi publik yang modern dan terintegrasi membuat kawasan ini semakin inklusif bagi semua kalangan masyarakat dari berbagai penjuru kota.

Informasi ringkas mengenai perbandingan wajah Blok M dulu dan sekarang bisa dilihat pada tabel di bawah ini:

Aspek Perbandingan Blok M Era 90-an/2000-an Blok M Masa Kini
Transportasi Utama Metro Mini, Kopaja, Angkot berkarat TransJakarta, MRT Jakarta yang nyaman
Suasana Nongkrong Pamer mobil di pinggir jalan (Gultik) Kopi kekinian, M Bloc Space, Taman Literasi
Pusat Perbelanjaan Mall Blok M, Plaza Blok M, Kaki Lima Blok M Square, Area Kuliner Viral, Pop-up Store
Kegiatan Utama Berburu buku bekas & kaset bajakan Hunting konten media sosial & kulineran

Tabel di atas menunjukkan betapa masifnya perubahan gaya hidup dan fasilitas pendukung yang ada di kawasan pusat perbelanjaan tertua di Jakarta Selatan ini. Perubahan tersebut mencakup hampir seluruh lini, mulai dari cara orang bermobilisasi hingga cara mereka menghabiskan waktu luang bersama komunitasnya.

Meskipun menyambut baik perubahan positif yang terjadi, Tyo merasa bahwa Blok M yang sekarang cenderung kehilangan kesan mendalam karena trennya yang berganti terlalu cepat. Ia mencatat bahwa keramaian kini hanya terpusat pada beberapa titik viral saja, seperti area gang estetik, Taman Literasi, hingga kedai kopi populer.

Bahkan, ia merasa fenomena tawuran pelajar yang terkadang masih terjadi di belakang Plaza Blok M sudah dianggap sebagai hal biasa bagi warga sekitar. Blok M memang terus tumbuh dan dinamis, namun bagi sebagian orang, kenangan klasik tentang bus karatan dan gultik porsi penuh tetap tak tergantikan.

Artikel terkait

Rekomendasi