Nilai Tukar Rupiah Melemah ke Rp 17.141 per Dolar AS

Nilai Tukar Rupiah Melemah ke Rp 17.141 per Dolar AS
Foto: Ilustrasi Nilai Tukar Rupiah Melemah ke Rp 17.141 per Dolar AS.

Nilai tukar rupiah mengalami penurunan sebesar 0,08 persen ke posisi Rp 17.141 per dolar Amerika Serikat (AS). Mata uang Indonesia tampak berjuang keras di tengah pemulihan tentatif yang mulai dialami oleh beberapa negara tetangga di kawasan regional.

Seperti dikutip dari Investortrust, pelemahan ini menggarisbawahi kondisi rentan ekonomi Asia Tenggara di tengah ketidakpastian yang berlangsung di Teluk Persia. Ketidakmampuan rupiah untuk menguat menjadi indikasi adanya sentimen menghindari risiko bagi aset-aset di Indonesia.

Posisi psikologis pada level Rp 17.100 memaksa Bank Indonesia untuk menguras cadangan devisa atau menaikkan imbal hasil surat utang domestik. Jika indeks dolar tidak stabil di bawah 98, lonjakan biaya impor energi berpotensi memicu tekanan ganda berupa defisit fiskal dan inflasi domestik.

Dolar AS masih menjadi tekanan besar bagi mayoritas mata uang di Asia, termasuk membuat yen Jepang turun 0,11 persen dan rupee India merosot 0,7 persen. Namun, fenomena pemisahan tren mulai terlihat jelas di dalam lingkup kawasan ASEAN.

Ringgit Malaysia tercatat melonjak sebesar 0,18 persen, sementara baht Thailand mampu menguat 0,27 persen. Kedua mata uang tersebut mendapatkan keuntungan dari penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang melandai ke level 4,25 persen.

Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, menyampaikan bahwa harapan gencatan senjata AS-Iran ikut memengaruhi harga minyak. Namun, dinamika seputar blokade Selat Hormuz dinilai masih terus membuat pelaku pasar merasa khawatir.

"Market players remain hopeful for a permanent ceasefire agreement," kata Andry Asmoro.

Andry Asmoro juga mengingatkan bahwa data tenaga kerja di Amerika Serikat terpantau masih sangat solid. Kondisi tersebut berpotensi menunda langkah agresif Bank Sentral AS atau Federal Reserve dalam memotong suku bunga acuan.

Tiga Strategi Utama Bank Indonesia

Guna meredam penurunan nilai tukar, Bank Indonesia kini mengubah arah strategi dari intervensi konvensional menuju pertahanan struktural. Senior Deputy Governor Bank Indonesia, Destry Damayanti, membeberkan tiga langkah taktis untuk menstabilkan rupiah.

Langkah pertama adalah dengan mengoptimalkan instrumen domestik yang memiliki imbal hasil tinggi. Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) terbukti menjadi magnet modal asing dengan aliran dana masuk mencapai Rp 29,08 triliun atau setara 1,82 miliar dolar AS per 8 April.

Langkah kedua dilakukan dengan memperketat ruang gerak spekulasi terhadap mata uang dolar AS. Setiap transaksi pembelian dolar yang nominalnya melebihi 50.000 dolar AS kini diwajibkan menyertakan verifikasi transaksi bisnis dasar yang ketat, turun dari batas sebelumnya sebesar 100.000 dolar AS.

Langkah terakhir adalah dengan menggandakan implementasi transaksi menggunakan mata uang lokal atau Local Currency Transactions (LCT).

"Our monthly transactions with China and Japan alone have reached Rp 3 billion to Rp 3.5 billion ($188,000 to $220,000) per month," ujar Destry Damayanti dalam Central Banking Forum 2026.

Destry Damayanti menambahkan bahwa jika ekspansi LCT berhasil diperluas, maka tekanan terhadap pasangan kurs Rupiah-USD dapat dikurangi secara signifikan.

Kondisi Ketahanan Fiskal Nasional

Kementerian Keuangan tetap menunjukkan sikap optimistis dalam menghadapi fluktuasi nilai tukar mata uang ini. Direktur Strategi Stabilitas Ekonomi, Noor Faisal Achmad, menegaskan bahwa motor penggerak pertumbuhan ekonomi domestik masih berjalan dengan performa yang baik.

Pemerintah berkomitmen penuh untuk menjaga defisit fiskal berada di bawah angka 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Batasan ketat ini sengaja dipertahankan demi menjaga kepercayaan para pemegang obligasi internasional.

"Fundamental economic data provides us with optimism. The impact will be limited," kata Noor Faisal Achmad.

Otoritas terkait saat ini terus memantau perkembangan situasi di Teluk Persia dengan cermat. Langkah yang diambil pemerintah saat ini adalah melakukan penyesuaian secara bertahap dan menghindari respons yang bersifat panik.

Artikel terkait

Rekomendasi