Nilai Tukar Rupiah Melemah terhadap Dolar AS akibat Konflik Geopolitik

Nilai Tukar Rupiah Melemah terhadap Dolar AS akibat Konflik Geopolitik
Foto: Ilustrasi Nilai Tukar Rupiah Melemah terhadap Dolar AS akibat Konflik Geopolitik.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mengalami penurunan sebesar 76,5 poin atau 0,43 persen ke level Rp 17.673 per dolar AS di pasar spot exchange pada Senin (18/5/2026) pukul 11.27 WIB. Penurunan ini dipicu oleh meningkatnya sentimen risk off global akibat memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah.

Kondisi pergerakan mata uang yang dilansir dari Investor Daily tersebut menunjukkan penguatan indeks dolar sebesar 0,02 persen ke level 99,29. Situasi ini berbanding terbalik dengan penutupan perdagangan pada Rabu (13/5/2026), saat mata uang Garuda sempat menguat 53 poin dan berada di posisi Rp 17.475 per dolar AS.

Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong menjelaskan bahwa pelemahan rupiah digerakkan oleh kekecewaan pasar terhadap hasil pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping. Pertemuan tersebut dinilai belum menghasilkan solusi konkret untuk menyelesaikan ketegangan antara AS dan Iran.

"Dolar AS menguat cukup besar di tengah aksi jual di hampir seluruh aset, mulai dari obligasi, saham, kripto, hingga mata uang setelah pasar kecewa terhadap hasil pertemuan Trump dan Xi yang tidak banyak membahas penyelesaian perang AS-Iran," ujar Lukman Leong.

Sentimen ini memicu kehati-hatian investor global yang kemudian memilih untuk mengalihkan dana mereka ke aset aman. Menurut catatan, pihak China sebenarnya mendorong pembukaan kembali Selat Hormuz dengan mempertahankan gencatan senjata, sementara Menteri Luar Negeri China Wang Yi menegaskan komitmen Beijing dalam memfasilitasi perundingan damai.

Namun, upaya mediasi dinilai berjalan lambat karena Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengungkapkan adanya hambatan akibat rendahnya kepercayaan terhadap Washington serta pesan-pesan yang kontradiktif. Di sisi lain, Presiden Donald Trump juga menyatakan ketidakyakinannya atas kesepakatan cepat, bahkan muncul laporan mengenai pertimbangan opsi serangan lanjutan ke Iran.

Dampak ketegangan geopolitik ini memicu kenaikan harga minyak dunia yang memperparah kekhawatiran pasar terhadap risiko inflasi global. Hubungan bilateral antara AS dan China yang menunjukkan sinyal positif akhirnya tergerus oleh kecemasan pasar terhadap konflik yang belum mereda tersebut.

"Pasar masih melihat perang sulit berakhir karena Iran diperkirakan tidak akan mudah melepas ambisi nuklirnya. Kekhawatiran terhadap lonjakan harga minyak akhirnya lebih dominan dibanding sentimen positif hubungan AS-China," jelas Lukman Leong.

Proyeksi pergerakan mata uang domestik diperkirakan masih akan menghadapi tekanan dalam waktu dekat. Lukman memprediksi pergerakan rupiah untuk jangka pendek akan tertahan pada kisaran Rp 17.550 hingga Rp 17.650 per dolar AS.

Artikel terkait

Rekomendasi