Sektor pameran dan konvensi di Asia Tenggara menunjukkan tren pertumbuhan yang dinamis. Fenomena ini direspons oleh Nusantara International Convention Exhibition (NICE) melalui langkah kolaboratif bersama Malaysia International Trade and Exhibition Centre (MITEC).
Dikutip dari Kompas, penandatanganan kerja sama strategis ini dilakukan di sela-sela perhelatan Thailand MICE Exchange (TMX). Sinergi tersebut dirancang untuk menjadi pendorong utama dalam memperkokoh ekosistem kegiatan bisnis di wilayah ASEAN.
Kemitraan ini bertujuan memposisikan Asia Tenggara sebagai tujuan MICE yang lebih kompetitif di tingkat internasional. Fokus kolaborasi mencakup berbagai aspek fundamental, mulai dari pertukaran peluang bisnis hingga pembagian wawasan pasar.
NICE dan MITEC juga berkomitmen untuk mengembangkan platform industri bersama tanpa membatasi independensi masing-masing pihak. Sifat perjanjian yang non-eksklusif memungkinkan kedua entitas untuk tetap tumbuh secara mandiri sembari memperkuat hubungan jangka panjang.
Managing Director NICE, Ryan Adrian, menjelaskan bahwa visi utama dari kerja sama ini adalah meningkatkan konektivitas regional. Hal ini menjadi bagian dari upaya integrasi ekosistem bisnis yang lebih luas di kawasan tersebut.
"Kemitraan ini menegaskan peran NICE sebagai penggerak Indonesia dalam memperkuat daya saing dan integrasi ekosistem MICE ASEAN di tingkat global," ujar Ryan.
Industri MICE saat ini sangat bergantung pada standar layanan berkualitas tinggi dan jaringan yang ekstensif. Melalui aliansi lintas batas ini, NICE menargetkan perluasan jangkauan pameran antarkawasan serta transfer pengetahuan teknis antarnegara.
Strategi tersebut didukung oleh kapasitas infrastruktur NICE yang mencapai 130.000 meter persegi di kawasan PIK2. Lokasi ini dinilai strategis karena terintegrasi dengan ekosistem perkotaan modern yang memudahkan aksesibilitas bagi peserta internasional.
Integrasi dengan MITEC sebagai pusat pameran terbesar di Malaysia diproyeksikan mampu membuka koridor ekonomi baru. Kolaborasi kolektif antarnegara tetangga ini diyakini menjadi kunci masa depan industri konvensi berskala besar di Asia Tenggara.