Presiden Prabowo Subianto menyatakan sejumlah negara mulai mempelajari program Makan Bergizi Gratis (MBG) Indonesia karena jangkauan layanannya yang masif kepada lebih dari 60 juta penerima manfaat. Hal tersebut disampaikan dalam acara groundbreaking 13 proyek hilirisasi di Cilacap, Jawa Tengah, pada Rabu (29/4/2026).
Dilansir dari Kompas, kepala negara menjelaskan bahwa program ini tidak hanya menyasar anak sekolah, tetapi juga mencakup ibu hamil hingga lansia. Distribusi makanan dilakukan secara rutin sebanyak lima kali dalam sepekan untuk memastikan pemenuhan gizi masyarakat yang membutuhkan.
"Banyak negara sekarang belajar MBG ke kita, karena di mana ada negara bisa memberi makan lebih 60 juta orang, lima kali seminggu, dari ibu hamil hingga lansia yang tidak berdaya, kita antar makanannya," kata Prabowo.
Presiden menekankan bahwa MBG dirancang sebagai instrumen penggerak ekonomi baru di tingkat akar rumput. Melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), pemerintah bertindak sebagai pembeli siaga atau offtaker untuk menyerap seluruh hasil produksi dari petani dan nelayan lokal.
Skema ini diharapkan dapat menghentikan praktik tengkulak yang selama ini merugikan produsen pangan skala kecil. Selain itu, sistem offtaker bertujuan menjaga stabilitas harga pangan di pasar agar tidak anjlok saat memasuki masa panen raya.
Target pembangunan fisik program ini mencakup 30.000 unit dapur MBG yang diproyeksikan membuka lapangan kerja bagi 1,5 juta orang. Selain itu, pemerintah berencana mengaktifkan 81.000 Koperasi Merah Putih guna menyerap 1,4 juta tenaga kerja di sektor logistik.
Mengenai pendanaan, Prabowo menegaskan bahwa anggaran program-program kerakyatan ini berasal dari hasil efisiensi birokrasi. Pemerintah fokus melakukan penekanan terhadap potensi kebocoran anggaran yang disebabkan oleh tindakan korupsi untuk dialihkan ke sektor produktif.
"Ini adalah uang yang kita hemat dari korupsi. Kita tahan, kita realokasi dan kita gelontorkan ke rakyat. Saya merasa berada di jalan yang benar," tutur Prabowo.