Sejumlah negara di Asia Tenggara yakni Malaysia, Thailand, Singapura, dan Vietnam tengah mempersiapkan pengembangan jaringan kereta cepat lintas negara guna memperkuat konektivitas regional. Proyek transportasi modern ini bertujuan memacu pertumbuhan ekonomi dan sektor pariwisata di kawasan tersebut pada Rabu (13/5/2026).
Dilansir dari Detik Travel, proyek yang menjadi sorotan utama adalah jalur kereta cepat China-Laos-Thailand. Infrastruktur ini nantinya akan menghubungkan Vientiane di Laos menuju Bangkok, Thailand, dengan proyeksi pemangkasan waktu tempuh antarkota menjadi sekitar empat jam saja.
Indonesia dilaporkan tidak ikut terlibat dalam proyek perluasan jaringan kereta cepat lintas negara ini. Sementara itu, Malaysia dan Thailand terus mendorong rencana pengembangan rute Kuala Lumpur-Bangkok demi mempermudah mobilitas pelaku bisnis serta wisatawan antarnegara.
Singapura turut mengambil peran strategis dalam integrasi transportasi ASEAN ini. Pemerintah Singapura telah lama membahas proyek kereta cepat yang menghubungkan wilayahnya dengan Kuala Lumpur sebagai bagian penting dari jaringan transportasi regional di masa depan.
Di sisi lain, Vietnam mulai mempercepat pembangunan sistem kereta cepat nasional untuk mendukung pertumbuhan ekonomi domestik. Vietnam bahkan terpilih menjadi tuan rumah forum HSR Asia 2026 yang secara khusus membahas masa depan teknologi kereta cepat di kawasan Asia Pasifik.
Pengembangan infrastruktur ini dinilai membawa pembaruan besar bagi dunia transportasi Asia Tenggara. Kehadiran jaringan tersebut diharapkan mampu mengurangi kepadatan lalu lintas udara serta membuka peluang investasi baru pada sektor pariwisata.
Proyek kereta cepat Kuala Lumpur-Singapura (KL-SG-HSR) direncanakan memiliki total panjang lintasan sekitar 350 kilometer. Jalur tersebut mencakup wilayah Malaysia sepanjang 300 kilometer dan wilayah Singapura sepanjang 50 kilometer.
Armada kereta tersebut akan beroperasi dengan kecepatan maksimal 300 km/jam. Dengan kecepatan tersebut, perjalanan antara Kuala Lumpur dan Singapura diprediksi hanya memakan waktu 90 menit bagi para penggunanya.
Terdapat delapan stasiun strategis yang akan mendukung inisiatif Pengembangan Berorientasi Transit (TOD) di sepanjang jalur. Stasiun-stasiun ini dirancang menjadi pusat kegiatan bisnis, komersial, dan perumahan untuk mendongkrak dampak ekonomi lokal.
Sistem persinyalan pada jalur ini akan menggunakan European Train Control System (ETCS) untuk menjamin keamanan operasional. Layanan ekspres dijadwalkan beroperasi setiap 30 menit guna menarik minat para komuter yang melintasi perbatasan kedua negara.