Morgan Stanley Capital International (MSCI) resmi mengumumkan penghapusan 19 saham Indonesia dari indeks global dalam hasil rebalancing periode Mei 2026 yang diumumkan Selasa (12/5/2026). Langkah ini diprediksi memicu arus keluar dana asing atau capital outflow dari Bursa Efek Indonesia menjelang pemberlakuan efektif pada 1 Juni 2026.
Perubahan komposisi portofolio ini mencakup enam emiten yang keluar dari MSCI Global Standard Indexes dan 13 emiten dari MSCI Global Small Cap Indexes. Dilansir dari Money, penyesuaian ini berpotensi memberikan tekanan jangka pendek terhadap pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah.
Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Ahmad Faris MuÔÇÖtashim, memproyeksikan adanya tekanan jual yang signifikan akibat kebijakan ini. Menurutnya, pengelola dana pasif memiliki kewajiban untuk menyesuaikan komposisi portofolio mereka dengan daftar terbaru yang dirilis MSCI.
"Tentunya hal ini akan membuat outflow dari pengelola dana pasif, yang membuat tekanan besar pada saham yang masuk delection dengan potensi Rp 22 triliun," ujar Faris, Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI).
Analisis teknikal menunjukkan bahwa area pendukung atau support IHSG saat ini berada pada kisaran 6.300 hingga 6.600. Kondisi pasar modal Indonesia diharapkan dapat segera pulih setelah fase penyesuaian indeks ini berakhir pada penutupan perdagangan akhir Mei mendatang.
Praktisi Pasar Modal sekaligus Co Founder PasarDana, Hans Kwee, mengimbau para pelaku pasar untuk tetap tenang dan tidak terjebak dalam aksi jual karena kepanikan. Ia memandang fenomena ini lebih bersifat teknikal terkait metodologi bobot likuiditas dan bukan mencerminkan penurunan kualitas kinerja emiten.
"Untuk melakukan akumulasi pada saham-saham blue chip dan sektor small cap yang harganya terkoreksi secara anomali akibat kepanikan dan tekanan jual paksa (forced selling) oleh fund manager pasif," kata Hans, Co Founder PasarDana.
Hans menambahkan bahwa para manajer investasi sebenarnya telah mengantisipasi perombakan ini sejak beberapa bulan sebelumnya. Transparansi kepemilikan dan pengawasan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) disebut menjadi faktor kunci untuk menjaga kepercayaan investor global terhadap pasar berkembang.
"Tidak terjebak dalam kepanikan jual (panic selling)," imbuh Hans, Co Founder PasarDana.
Hans juga memberikan catatan mengenai pentingnya peran Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam meningkatkan keterbukaan informasi. Ia optimistis bahwa koreksi yang terjadi saat ini bisa menjadi titik terendah sebelum pasar kembali menguat.
"Fund manager pasif sebagian akan memanfaatkan periode terakhir di 29 Mei untuk melakukan rebalancing portofolionya mengikuti pengumuman MSCI," ujar Hans, Co Founder PasarDana.
Menurut pandangannya, keberhasilan India dalam mendigitalisasi investasi dan menyelaraskan aturan kepemilikan asing patut menjadi acuan. Hal ini bertujuan agar pasar modal Indonesia lebih kredibel di mata dunia internasional.
"Pengumuan MSCI ini bisa jadi bottom dari koreksi IHSG sebelum kembali bangkit mengikuti fundamental perusahaan," ujar Hans, Co Founder PasarDana.
Pengamat Pasar Modal, Reydi Octa, menekankan pentingnya disiplin dalam manajemen risiko bagi investor ritel saat ini. Penataan kembali portofolio investasi dinilai perlu dilakukan dengan fokus pada saham yang memiliki fundamental kuat dan kapitalisasi pasar besar.
ÔÇ£Lebih fokus pada fundamental emiten dibanding sekadar tekanan jangka pendek akibat foreign flow (arus dana asing keluar),ÔÇØ kata Reydi, Pengamat Pasar Modal.
Reydi menyarankan agar investor melakukan akumulasi secara bertahap pada saham-saham yang memiliki tata kelola baik. Emiten dengan tingkat kepemilikan publik atau free float yang sehat diprediksi tetap akan menjadi incaran investor global dalam jangka menengah.
ÔÇ£Investor sekarang sebaiknya lebih selektif dalam memilih emiten dengan free float yang sehat dan memiliki valuasi, stabilitas harga yang baik ke depan,ÔÇØ ujar Reydi, Pengamat Pasar Modal.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, memberikan pandangan senada mengenai dampak langsung dari kebijakan MSCI tersebut. Ia menyoroti keterpaksaan para fund manager yang menjadikan MSCI sebagai acuan utama untuk melepaskan kepemilikan saham mereka.
ÔÇ£Hemat saya outflow ya pasti juga terjadi. Biasanya kalau fund manager yang mereferensikan MSCI standard tentu akan terpaksa menjual saham tersebut untuk menyesuaikan dengan komposisi indeks terbaru,ÔÇØ ujar Nafan, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas.
Dampak dari aksi jual ini diperkirakan akan terasa pada harga saham-saham yang masuk dalam daftar penghapusan. Namun, Nafan menegaskan bahwa fenomena tekanan harga ini kemungkinan besar hanya bersifat temporer.
ÔÇ£Tapi hal ini juga bisa menekan saham-saham tersebut yang keluar maupun juga rupiah dalam jangka pendek. Tapi di jangka pendek ya hemat saya demikian,ÔÇØ papar Nafan, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas.
Daftar saham yang keluar dari MSCI Global Standard Indexes meliputi AMMN, BREN, TPIA, DSSA, CUAN, dan AMRT. Sementara itu, 13 saham lainnya yang keluar dari MSCI Global Small Cap Indexes mencakup emiten seperti ANTM, SIDO, MIKA, hingga BSDE. Seluruh perubahan ini akan mulai berlaku efektif per 1 Juni 2026.