MSCI resmi menggelar penyesuaian ulang atau rebalancing portofolio saham pada Mei 2026. Langkah ini berdampak langsung terhadap pengurangan jumlah saham asal Indonesia secara signifikan.
Dilansir dari Investortrust, tercatat hanya ada 11 saham Indonesia yang mampu mempertahankan posisi mereka di dalam MSCI Global Standard Indexes setelah penyesuaian berkala tersebut dilakukan.
Daftar saham yang masih bertahan didominasi oleh sektor perbankan dan konglomerasi besar, termasuk di antaranya PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI).
Selain itu, saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT Astra International Tbk (ASII), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) juga dilaporkan tetap aman di indeks tersebut.
Emiten lain yang sukses mempertahankan posisinya meliputi PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), PT United Tractors Tbk (UNTR), serta PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS).
Sebaliknya, rebalancing kali ini mendepak enam saham Indonesia sekaligus dari daftar MSCI Global Standard Indexes. Saham yang keluar adalah PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN).
Empat emiten lain yang turut dikeluarkan dari indeks bergengsi tersebut adalah PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT).
Sementara itu, pada kategori terpisah, terdapat 43 saham yang masih bertahan dalam daftar MSCI Global Small Cap Indexes setelah didepaknya 13 emiten dari kelompok tersebut.
PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) mengalami penurunan peringkat ke dalam MSCI Global Small Cap Indexes setelah sebelumnya tereliminasi dari kelompok MSCI Global Standard.
Beberapa emiten lain yang berada di dalam daftar indeks kapitalisasi kecil ini meliputi ADRO, AADi, AKRA, BBTN, BUKA, BUMI, CMRY, ENERG, FILM, GGRM, INCO, INDF, dan PTRO.