Morgan Stanley Capital International (MSCI) berencana mengeluarkan saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dari indeksnya karena teridentifikasi memiliki konsentrasi kepemilikan yang tinggi (HSC). Kebijakan ini berdampak pada merosotnya harga kedua saham tersebut pada perdagangan Selasa (21/4/2026) di Bursa Efek Indonesia.
Dilansir dari Stocksetup, Bursa Efek Indonesia mencatat tingkat kepemilikan kelompok tertentu pada BREN mencapai 97,31 persen, sementara kepemilikan pada DSSA tercatat sebesar 95,71 persen per 31 Maret 2026. Akibat pengumuman tersebut, harga saham BREN jatuh 9,47 persen ke posisi Rp 5.975 dan saham DSSA anjlok 14,98 persen ke level Rp 2.780.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda menilai bahwa penurunan tajam ini terjadi karena sensitivitas saham terhadap perubahan bobot indeks dan strategi permainan indeks. Fenomena ini menjadi peringatan bagi para pemodal terkait batasan kepemilikan publik atau free float.
"Investor perlu lebih cermat memperhatikan daftar HSC dari Bursa dan struktur kepemilikan saham, karena faktor tersebut kini menjadi perhatian utama dalam penilaian indeks global," ujar Reza Diofanda, Analis BRI Danareksa Sekuritas.
Reza menambahkan bahwa para pemegang saham sebaiknya tidak bersikap reaktif dengan menjual seluruh aset mereka, terutama pada sektor yang masih prospektif. Ia menyarankan pengalihan fokus ke sektor komoditas seperti minyak, gas, dan emas yang diuntungkan oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
"Saham minyak dan gas berpotensi diuntungkan dari naiknya harga minyak, emas menarik sebagai safe haven saat volatilitas tinggi, batu bara masih prospektif jika harga energi bertahan kuat, sementara CPO menarik seiring kenaikan harga minyak nabati dan permintaan biodiesel," pungkas Reza.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menjelaskan bahwa penghapusan dari indeks MSCI dapat mengurangi visibilitas emiten di mata investor institusi global. Kondisi ini membuat dana pasif dari luar negeri cenderung mengurangi posisi kepemilikan mereka pada saham-saham terkait.
"Passive fund mau tidak mau pasti kurangi posisi di dua saham ini (BREN dan DSSA), sepertinya mereka telah lakukan ini dari jauh-jauh hari," kata Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia.
Meskipun terdapat tekanan jual, Liza menyarankan investor untuk tetap selektif dan memprioritaskan saham konglomerasi yang memiliki likuiditas tinggi serta fundamental yang kuat. Ia menekankan pentingnya menunggu kejelasan lebih lanjut dari pihak pengelola indeks global sebelum mengambil keputusan besar.
"Momentum untuk kembali masuk ke saham MSCI biasanya lebih optimal setelah ada kejelasan lanjutan dari MSCI dan tekanan supply mulai mereda," jelas Liza.