Pasar modal Indonesia menghadapi tantangan besar setelah dua penyedia indeks internasional, MSCI dan FTSE Russell, memberikan sinyal negatif terhadap kualitas serta likuiditas saham domestik. Langkah ini tidak hanya memicu koreksi pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), tetapi juga mengancam daya tarik investasi nasional di mata global.
Dilansir dari Money, MSCI melakukan perombakan berkala pada Mei 2026 dengan mengeluarkan enam saham utama Indonesia dari MSCI Global Standard Indexes. Keputusan ini berdampak langsung pada aliran modal masuk ke bursa tanah air.
Daftar entitas yang keluar dari indeks bergengsi tersebut meliputi PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA). Selain itu, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), serta PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) juga tercoret.
Khusus untuk AMRT, saham pengelola Alfamart ini dipindahkan ke kelompok MSCI Small Cap Indexes. Namun, MSCI juga menghapus 13 emiten lain dari kategori Small Cap, termasuk nama-nama besar seperti ANTM, AALI, BSDE, SIDO, hingga MIKA.
Kondisi pasar semakin tertekan setelah FTSE Russell berencana menghapus saham yang masuk kategori High Shareholding Concentration (HSC). FTSE bahkan mempertimbangkan penilaian harga nol bagi saham dengan konsentrasi kepemilikan yang sangat tinggi.
Situasi tersebut menjadi peringatan bagi regulator terkait kemudahan transaksi bagi investor global, terutama pengelola dana pasif. Dampaknya terlihat jelas pada perdagangan Rabu (13/5/2026), di mana IHSG ditutup merosot 1,98 persen ke level 6.723,32.
Penurunan tajam dialami oleh saham-saham yang terdepak dari indeks. TPIA mencatatkan kejatuhan 14,85 persen, disusul BREN yang melemah 11,36 persen, DSSA turun 11,16 persen, dan CUAN melandai 10,05 persen.
Investor asing merespons dengan aksi jual bersih senilai Rp 1,53 triliun di seluruh pasar. Akumulasi jual bersih asing sepanjang tahun berjalan kini telah menembus angka Rp 40,25 triliun.
Hendra Wardana, Founder Republik Investor, menyebut dampak rebalancing MSCI tetap signifikan pada arus modal meskipun sudah diantisipasi pelaku pasar. Menurutnya, saham yang keluar dari indeks masih berpotensi mengalami volatilitas tinggi dalam jangka pendek.
"Di sisi lain, saham-saham defensif dan berbasis domestik relatif lebih diuntungkan karena dianggap lebih tahan terhadap tekanan eksternal," ujar Hendra.
Sementara itu, Maximilianus Nicodemus dari Pilarmas Investindo Sekuritas menilai berkurangnya konstituen Indonesia di MSCI akan memangkas potensi capital inflow. Hal ini dikarenakan indeks tersebut merupakan acuan utama investor internasional di pasar negara berkembang.
Di sisi lain, Bursa Efek Indonesia (BEI) menilai pengumuman ini memiliki sisi positif karena menghilangkan ketidakpastian yang sempat membuat pelaku pasar bersikap menunggu. Pejabat Sementara Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menyatakan satu beban ketidakpastian kini telah berkurang.
"Dengan apa yang disampaikan oleh MSCI hari ini mengurangi satu unsur ketidakpastian," ujar Jeffrey.
Jeffrey tetap optimis pasar saham domestik dapat pulih jika kondisi global membaik dan didukung sinergi antar pemangku kepentingan. Namun, Budi Frensidy dari Universitas Indonesia mengingatkan pentingnya reformasi transparansi pasar oleh regulator.
Budi menilai isu mengenai free float, beneficial ownership, hingga konsentrasi kepemilikan saham seharusnya dibenahi lebih awal. Terakhir, Hans Kwee dari PasarDana memprediksi IHSG berpeluang kembali ke rentang 7.600ÔÇô7.800 pada akhir 2026 jika tekanan rebalancing berakhir.