Penggunaan motor listrik EMMO JVX GT untuk operasional program Makan Bergizi Gratis (MBG) memicu perbincangan publik pada Senin (13/4/2026) akibat kemiripan desainnya dengan produk asal China, Kollter ES1-X Pro. Kendaraan yang digunakan Badan Gizi Nasional ini disorot karena memiliki perbedaan harga yang sangat signifikan dibandingkan versi yang dipasarkan di platform luar negeri.
Dilansir dari Detik Oto, unit Kollter ES1-X Pro di marketplace Alibaba dibanderol sekitar Rp 10 juta per unit, bahkan turun menjadi Rp 8 juta untuk pembelian grosir. Sementara itu, EMMO JVX GT dipasarkan di Indonesia dengan harga mencapai Rp 56 juta per unit.
Perbandingan fisik menunjukkan kedua motor tersebut memiliki detail yang identik pada bagian lampu, kaca depan (windshield), rangka, hingga posisi pijakan kaki. Perbedaan mencolok hanya ditemukan pada penggunaan emblem dan corak stiker (striping) yang menempel pada bodi kendaraan.
Informasi teknis singkat di laman Alibaba menyebutkan Kollter menggunakan baterai 72V dengan daya jelajah 70-80 kilometer, spesifikasi yang serupa dengan EMMO JVX GT. Hingga saat ini, pihak EMMO belum memberikan penjelasan terbuka terkait pengadaan motor operasional untuk program prioritas pemerintah tersebut.
Ketua Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, juga belum merespons konfirmasi yang diajukan terkait tudingan kemiripan produk ini. Di sisi lain, pengamat otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Pasaribu, menilai fenomena ini merupakan dampak dari ketergantungan industri lokal pada metode Completely Knocked Down (CKD).
"Fenomena ini terjadi karena mayoritas industri motor listrik Indonesia masih bergantung pada CKD dari China, tidak mau membangun jejaring industri komponen di dalam negeri, mengejar cuan lebih cepat," ujar Yannes Pasaribu, Pengamat Otomotif ITB.
Yannes menambahkan bahwa langkah ini biasanya diambil produsen untuk menekan biaya produksi dan mempercepat akses teknologi agar dapat memenuhi syarat e-Katalog LKPP. Namun, ia memperingatkan bahwa ketergantungan pada komponen impor dapat menghambat transfer teknologi dan memicu pelarian modal ke luar negeri.