Prospek cerah menyelimuti pasar logam mulia setelah Morgan Stanley menetapkan target harga emas sebesar $5.200 per ons untuk tahun ini. Dilansir dari Market, optimisme ini muncul di tengah perubahan dinamika pasar yang kini lebih sensitif terhadap kebijakan moneter global.
Kenaikan signifikan tersebut diperkirakan bakal didorong oleh dimulainya kembali aktivitas pembelian melalui ETF serta akumulasi cadangan emas yang terus berlanjut di Tiongkok. Pelemahan dolar AS juga menjadi faktor pendukung utama yang dapat mengerek nilai logam mulia tersebut.
Meskipun target jangka panjang tetap optimistis, analisis Morgan Stanley menyoroti fenomena menarik terkait perilaku emas selama konflik di Iran. Logam mulia ini justru mengalami koreksi tajam sebesar 14,5% sejak ketegangan di wilayah tersebut dimulai.
Kinerja tersebut tercatat berada di bawah performa ekuitas global dan Amerika Serikat. Sebagai perbandingan, FTSE All-World hanya turun 9% dan S&P 500 terkoreksi 7,8% pada periode yang sama. Hal ini menunjukkan emas gagal memberikan perlindungan tradisional yang biasanya diharapkan investor saat terjadi guncangan geopolitik.
Pengaruh Suku Bunga Riil terhadap Harga
Penurunan nilai emas di tengah konflik dianalisis bersumber dari saluran suku bunga. Lonjakan harga minyak akibat ketegangan tersebut telah memicu kekhawatiran inflasi, yang pada gilirannya menekan ekspektasi pasar terhadap rencana pemangkasan suku bunga Federal Reserve.
Kondisi ini mendorong imbal hasil riil menjadi lebih tinggi, sehingga meningkatkan biaya peluang bagi investor untuk memegang emas yang tidak menghasilkan pendapatan tetap. Bank tersebut berpendapat bahwa kebijakan moneter kini memiliki pengaruh yang jauh lebih kuat bagi pergerakan emas dibandingkan dampak langsung dari peperangan itu sendiri.
Faktor Pendorong Menuju Target 5.200 Dolar AS
Morgan Stanley memandang bahwa emas bukan lagi instrumen yang semata-mata dipicu oleh ketakutan akibat peristiwa geopolitik secara langsung. Emas kini telah bertransformasi menjadi aset yang sangat bergantung pada implikasi kebijakan moneter dari peristiwa-peristiwa dunia tersebut.
Keberhasilan emas mencapai angka $5.200 sangat bergantung pada realisasi beberapa agenda keuangan global. Salah satu poin krusial adalah ekspektasi bagi Federal Reserve untuk melakukan dua kali pemangkasan suku bunga masing-masing sebesar 25 basis poin, yang diprediksi terjadi pada Januari dan Maret 2027.
Laporan tersebut menekankan bahwa jika faktor-faktor seperti pembelian kembali oleh bank sentral dan pelemahan dolar berkembang sesuai antisipasi, hambatan dari imbal hasil riil akan berkurang. Hal ini diprediksi mampu memulihkan dinamika permintaan yang sempat terganggu oleh ketegangan di Teluk.