Bank investasi Morgan Stanley menurunkan proyeksi harga emas dunia untuk semester kedua 2026 menjadi 5.200 dollar AS per ons troi pada Senin (27/4/2026). Revisi ini mencatat koreksi hampir 10 persen dari target sebelumnya sebesar 5.700 dollar AS per ons troi akibat perubahan dinamika pasar global.
Pemangkasan target harga tersebut dipicu oleh aksi jual selama enam pekan yang menyebabkan harga logam mulia merosot hampir 8 persen dari titik tertinggi. Penurunan bulanan ini dilansir dari Money disebut sebagai yang terburuk bagi sektor emas sejak krisis finansial tahun 2008 silam.
Analisis lembaga keuangan tersebut menunjukkan adanya pergeseran fungsi emas dari aset lindung nilai tradisional menjadi komoditas yang lebih sensitif terhadap likuiditas global. Kenaikan real yield obligasi dan tertundanya pemangkasan suku bunga Federal Reserve (The Fed) menjadi faktor utama penekan harga.
Laporan analis menekankan bahwa kondisi makro saat ini telah mengubah lanskap perdagangan logam mulia secara signifikan.
"Emas kini diperdagangkan lebih seperti aset makro yang terkait dengan suku bunga daripada sekadar aset safe haven murni," kata Morgan Stanley dalam laporannya.
Pihak perbankan juga menyoroti perilaku pasar yang kini lebih dipengaruhi oleh aliran dana Exchange Traded Fund (ETF) serta posisi investor besar. Status emas sebagai tempat perlindungan aman mulai dipertanyakan setelah performanya dinilai tidak konsisten selama konflik geopolitik di Timur Tengah berlangsung.
Logam mulia tersebut dianggap tidak lagi secara otomatis menguat saat gejolak meningkat, melainkan lebih banyak bergerak searah dengan dinamika likuiditas perbankan.
"Emas belakangan berperilaku kurang seperti tempat perlindungan," tulis laporan tersebut.
Strategis logam dan pertambangan perusahaan memberikan pandangan tambahan mengenai pergerakan harga yang lebih menyerupai aset berisiko. Hal ini diperkuat dengan data likuidasi emas oleh sejumlah bank sentral dan arus keluar dana dari instrumen ETF.
"Emas saat ini lebih berperilaku seperti aset berisiko daripada aset aman," ujar Amy Gower, metals and mining strategist Morgan Stanley.
Di sisi lain, Morgan Stanley justru memberikan pandangan positif terhadap perak yang didukung oleh defisit pasokan dan tingginya permintaan industri panel surya. Perak dinilai memiliki prospek kenaikan harga yang lebih nyata dibandingkan emas dalam jangka menengah.
"Perak tampaknya masih memiliki prospek kenaikan yang lebih nyata dibandingkan emas," tulis Morgan Stanley.
Meskipun terjadi pemangkasan target, Morgan Stanley menegaskan bahwa fase kenaikan harga emas belum sepenuhnya berakhir. Pasar hanya dinilai sedang memasuki masa transisi yang lebih bergantung pada data ekonomi makro daripada sekadar momentum likuiditas.
"Keuntungan mudah yang didorong oleh likuiditas dan momentum kemungkinan besar sudah berakhir," sebut Morgan Stanley.
Pergeseran cara pandang pasar ini dianggap sebagai penanda perubahan fase baru di pasar emas internasional. Investor kini lebih fokus pada kalkulasi biaya peluang memegang aset tanpa imbal hasil dibandingkan sekadar narasi ketakutan geopolitik.
"Ini bukan tentang emas kehilangan relevansinya sama sekali, melainkan lebih tentang pasar yang mengubah cara penetapan harga dan ekspresi keamanannya," tulis laporan tersebut.
Ke depannya, arah harga emas akan sangat ditentukan oleh waktu pemangkasan suku bunga The Fed dan pergerakan real yield obligasi. Jika pelonggaran moneter dilakukan lebih cepat, emas masih memiliki peluang untuk pulih dari tekanan saat ini.