Mobil Hybrid Jadi Opsi Rasional Konsumen di Tengah Ketidakpastian Pajak

Mobil Hybrid Jadi Opsi Rasional Konsumen di Tengah Ketidakpastian Pajak
Foto: Ilustrasi Mobil Hybrid Jadi Opsi Rasional Konsumen di Tengah Ketidakpastian Pajak.

Pasar otomotif nasional diperkirakan mengalami pergeseran preferensi konsumen ke kendaraan hybrid (HEV) akibat perubahan kebijakan pajak mobil listrik berbasis baterai (BEV) dan kenaikan harga BBM nonsubsidi. Fenomena ini muncul sebagai respons masyarakat terhadap tekanan daya beli pada Minggu (19/4/2026), sebagaimana dilansir dari Otomotif.

Kendaraan hybrid kini dipandang sebagai opsi paling rasional bagi konsumen yang menginginkan efisiensi bahan bakar tanpa harus beralih sepenuhnya ke ekosistem BEV yang masih dipenuhi ketidakpastian insentif. Perlambatan signifikan saat ini sedang membayangi segmen kendaraan penumpang, terutama pada kelas entry level.

Yannes Martinus Pasaribu, Pakar Otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), menilai segmen menengah bawah yang menjadi tulang punggung penjualan sedang berada dalam posisi tertekan.

ÔÇ£Di segmen mobil penumpang yang lesu darah, kendaraan HEV entry level akan mengambil alih posisi sebagai sweet spot pelarian paling logis bagi konsumen yang terdesak ingin irit bensin tapi masih ragu ke BEV,ÔÇØ ujar Yannes, Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB).

Implementasi Permendagri Nomor 11 Tahun 2026 menjadi faktor krusial yang mengubah lanskap pasar karena BEV tidak lagi otomatis mendapatkan pengecualian pajak seperti pada regulasi sebelumnya. Hal ini menyebabkan tarif pajak kendaraan listrik kini sangat bergantung pada kebijakan pemerintah daerah masing-masing.

ÔÇ£With kenaikan harga yang begitu variatif di berbagai provinsi terhadap BEV, harga BEV yang TKDN-nya rendah akan naik kecuali para pabrikan segera percepat produksi lokal dengan TKDN yang diperbesar demi menekan harga jual BEV mereka di pasar lokal kita,ÔÇØ kata Yannes, Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB).

Kenaikan harga tersebut berpotensi menambah keraguan konsumen terhadap daya saing kendaraan listrik di segmen ritel jika produksi lokal tidak segera dipercepat. Sebaliknya, mobil hybrid menawarkan fleksibilitas lebih tinggi karena tidak bergantung sepenuhnya pada infrastruktur pengisian daya.

ÔÇ£Intinya, pasar retail akan semakin ditopang oleh pembelian kelas menengah atas dan korporasi ya Mas,ÔÇØ ujar Yannes, Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB).

Kombinasi antara mesin bensin dan motor listrik pada mobil HEV memberikan nilai tambah berupa penghematan jangka panjang dengan risiko operasional yang lebih rendah. Kondisi pasar ke depan diprediksi akan lebih banyak didominasi oleh konsumen dengan daya beli kuat dan sektor korporasi.

Artikel terkait

Rekomendasi