Mina Menyimpan Fakta Menarik Sebagai Kota Tenda Terbesar di Dunia

Mina Menyimpan Fakta Menarik Sebagai Kota Tenda Terbesar di Dunia
Foto: Ilustrasi Mina Menyimpan Fakta Menarik Sebagai Kota Tenda Terbesar di Dunia.

Mina menjadi kawasan yang sangat krusial dalam pelaksanaan ibadah haji di Makkah. Wilayah berupa lembah ini berjarak kurang lebih 5 kilometer di sebelah timur Masjidil Haram.

Seperti dikutip dari Detikcom, jutaan umat Islam dari seluruh penjuru dunia berkumpul di lokasi ini setiap tahunnya. Mereka datang ke Mina untuk menjalani prosesi mabit atau bermalam sekaligus melontar jumrah.

Kawasan ini dipenuhi oleh ribuan tenda putih yang membentang luas di antara lembah serta perbukitan. Pemandangan unik tersebut membuat Mina masyhur dengan sebutan "Kota Tenda Terbesar di Dunia".

Lautan tenda putih langsung mendominasi pemandangan Mina begitu musim haji tiba. Kementerian Agama (Kemenag) mengonfirmasi bahwa area ini sanggup menampung jutaan orang selama enam hari berturut-turut, mulai 8 hingga 13 Dzulhijjah.

Aktivitas bermalam menjadi agenda wajib bagi seluruh jamaah yang sedang menyelesaikan fase akhir ibadah haji. Guna mengakomodasi kebutuhan tersebut, otoritas Arab Saudi menyediakan penginapan berupa tenda permanen berskala raksasa.

Secara geografis, luas wilayah Mina menyentuh angka sekitar 650 hektar. Lembah luas ini diapit oleh jajaran pegunungan tinggi nan terjal pada sisi utara dan selatan, serta berbatasan dengan Wadi Muhasar yang bersejarah di sebelah timur.

Alasan Utama Julukan Kota Tenda Terbesar

Buku berjudul The Lost Story of Kabah: Fakta-Fakta Mencengangkan Seputar Baitullah karya Irfan L. Sarhindi membeberkan sejumlah faktor di balik predikat mendunia yang disandang Mina.

Faktor pertama adalah keberadaan sekitar 40.000 tenda permanen yang didesain khusus untuk menampung lebih dari dua juta jamaah. Struktur bangunan ini dibiarkan tetap berdiri kokoh meski musim haji telah berlalu.

Konstruksi tenda memanfaatkan bahan serat kaca berlapis teflon yang antipeluru dan api, serta ditopang rangka baja kuat. Spesifikasi material ini dipilih agar bangunan sanggup menghadapi cuaca ekstrem Arab Saudi.

Alasan kedua terletak pada teknologi mutakhir yang mampu meredam suhu panas ekstrem hingga mencapai 700 derajat Celsius. Pemerintah Arab Saudi merombak total tenda biasa menjadi tenda permanen tahan api demi mencegah terulangnya insiden kebakaran masa lalu.

Fasilitas penunjang seperti pendingin udara juga dipasang di dalam tenda agar jamaah tetap merasa sejuk. Hal ini memastikan kenyamanan beristirahat di tengah cuaca gurun yang menyengat.

Faktor ketiga berkaitan dengan statusnya sebagai kota musiman terbesar, karena Mina hanya padat manusia pada momen haji saja. Kawasan ini cenderung sepi di luar waktu tersebut.

Namun, saat musim haji tiba, infrastruktur pendukung langsung aktif beroperasi secara masif. Fasilitas publik seperti rumah sakit, pusat medis, rumah makan, pertokoan, sanitasi umum, hingga jembatan layang tersedia lengkap di sana.

Sejarah Panjang Pengembangan Teknologi Tenda

Gagasan awal mengenai modernisasi pemukiman musiman di Mina ini mulai digagas pada era 1970-an oleh arsitek bernama Bodo Rasch. Penelitian ilmiah terkait sistem tenda yang aman dan mutakhir di Mina diterbitkannya pada tahun 1979.

Lonjakan kuantitas jamaah dari tahun ke tahun mendorong urgensi pembuatan tempat bernaung yang jauh lebih aman. Desain baru kemudian dilahirkan dengan menciptakan 12 variasi model tenda tahan api untuk beragam kelompok jamaah.

Bentuk arsitektur lokal dengan ciri khas atap lancip menyerupai tenda tradisional Arab tetap dipertahankan. Meski begitu, bagian dalamnya sudah diintegrasikan dengan teknologi pengondisi udara modern.

Proyek ambisius ini berhasil merampungkan 10.000 unit tenda perdana hanya dalam kurun waktu tujuh bulan untuk menampung setengah juta orang. Fase awal tersebut terus dikembangkan hingga menjelma menjadi 40.000 tenda permanen yang berdiri kokoh sampai hari ini.

Artikel terkait

Rekomendasi