Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Menteri Investasi Rosan Roeslani, dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengadakan pertemuan dengan Kamar Dagang China (China Chamber of Commerce) di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, pada Selasa sore (19/5/2026). Dilansir dari Detik Finance, rapat koordinasi tersebut dilakukan untuk membahas berbagai hambatan yang dihadapi oleh sekitar 30 perusahaan investor asal China, khususnya di sektor pertambangan dan hilirisasi.
Pertemuan ini menjadi ruang bagi pemerintah untuk mengevaluasi operasional para pelaku usaha asing tersebut demi menjaga kelangsungan bisnis sekaligus memastikan pendapatan negara tetap berjalan optimal. Selain membahas kendala regulasi, para pengusaha asal China juga menyampaikan keinginan mereka untuk mendapatkan jaminan pasokan bahan baku yang stabil, seperti nikel dan bauksit, guna mendukung keberlanjutan industri hilirisasi di Indonesia.
"Tadi saya, Pak Rosan Menteri Investasi dan Pak Purbaya, Menteri Keuangan dan Pak Dubes mengundang investor Tiongkok yang sudah beroperasi di sini. Kita melakukan rapat koordinasi tentang apa aja kendala mereka. Kan kita ingin untuk perusahaan harus survive, negara juga harus mendapatkan pendapatan," jelas Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM.
Pemerintah menanggapi positif permintaan tersebut dan memastikan bahwa pasokan komoditas mineral untuk kebutuhan domestik tidak menghadapi kendala karena masuk dalam program prioritas hilirisasi nasional.
"Mereka ingin mendapatkan kepastian bahan baku bauksit kemudian nikel, dan saya katakan semuanya oke nggak ada masalah. Karena itu industri kan hilirisasi," ujarnya.
Bahlil Lahadalia juga memberikan klarifikasi mengenai spekulasi yang menyebutkan bahwa pertemuan ini merupakan respons langsung terhadap surat keluhan investasi yang dikirimkan Kadin China kepada Presiden Prabowo Subianto.
"Enggak ada. Saya tidak menganggap itu, saya kan rutin aja kita waktu Menteri Investasi kan suka melakukan evaluasi per 4 bulan, per 6 bulan," ujarnya.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengonfirmasi bahwa agenda utama pertemuan tersebut adalah untuk mendengarkan langsung seluruh persoalan yang dihadapi oleh para investor di lapangan.
"Ini kan dengan pengusaha China, barusan. Ya, menangkap masalah-masalah mereka hadapi. Ada keluhan-keluhan mereka. Dan ya udah, kita dengerin. Kalau kita bisa pecahkan, kita pecahkan," kata Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.
Purbaya Yudhi Sadewa menambahkan bahwa rincian poin keberatan dari para pengusaha tersebut sebenarnya telah disampaikan secara resmi melalui dokumen tertulis kepada kepala negara.
"Ada banyak Kadin nya China sini yang bikin surat ke Presiden," ujarnya.
Berdasarkan dokumen surat Kadin China yang beredar, para pelaku usaha menyoroti kebijakan retensi Devisa Hasil Ekspor (DHE) Sumber Daya Alam (SDA) yang mewajibkan penyimpanan 50 persen devisa di bank milik negara Indonesia selama minimal satu tahun karena dianggap mengganggu likuiditas. Pengusaha China juga mengeluhkan rencana kenaikan tarif royalti komoditas mineral dan batu bara serta penerapan bea keluar yang dinilai meningkatkan biaya produksi pertambangan.