Menteri Keuangan G7 Gelar Pertemuan Darurat di Paris

Menteri Keuangan G7 Gelar Pertemuan Darurat di Paris
Foto: Ilustrasi Menteri Keuangan G7 Gelar Pertemuan Darurat di Paris.

Para menteri keuangan dari kelompok tujuh negara maju (G7) mengadakan pertemuan darurat di Paris, Prancis, pada Senin (18/5/2026). Langkah ini diambil menyusul peringatan keras dari para pejabat global terkait dampak buruk jangka panjang terhadap perekonomian dunia setelah jalur maritim strategis di Selat Hormuz ditutup.

Krisis ekonomi global yang dipicu oleh penutupan jalur laut tersebut menjadi fokus utama pembahasan para petinggi keuangan. Sistem ekonomi dunia dinilai sangat rentan terhadap guncangan eksternal akibat eskalasi situasi keamanan yang terjadi di wilayah Timur Tengah.

"Membuka kembali Selat Hormuz dan menghentikan konflik ini secara permanen adalah prioritas utama untuk meredam dampak buruk terhadap ekonomi global," ujar Kyriakos Pierrakakis, Presiden Eurogroup.

Pierrakakis yang juga menjabat sebagai Menteri Keuangan Yunani hadir mewakili zona euro dalam pertemuan tersebut. Negara anggota G7 lainnya yang terlibat meliputi Amerika Serikat, Inggris, Kanada, Prancis, Jerman, Italia, dan Jepang.

"Meskipun ekonomi Eropa sejauh ini cukup tangguh menghadapi krisis energi, tekanan ekonomi global akan tetap terasa, bahkan jika konflik bersenjata tersebut berhasil diselesaikan dalam waktu dekat," kata Kyriakos Pierrakakis, Presiden Eurogroup.

Dilansir dari Investor Daily, ketegangan akibat konflik bersenjata ini telah mengguncang pasar obligasi global dan memicu kekhawatiran inflasi. Di Amerika Serikat, imbal hasil obligasi pemerintah berdurasi 30 tahun melonjak hingga menyentuh level 5,121%, yang merupakan angka tertinggi sejak Mei 2025.

Lonjakan imbal hasil obligasi juga melanda Inggris hingga mencapai level tertinggi sejak akhir 1990-an karena ancaman inflasi dan ketidakstabilan politik. Sementara itu, Jepang yang berstatus sebagai importir energi terbesar turut mengalami kenaikan drastis pada imbal hasil obligasinya akibat sensitivitas rantai pasok minyak.

Kondisi di pasar komoditas juga terus memburuk dengan harga minyak mentah dunia yang tertahan di level tinggi. Pada penutupan perdagangan Jumat lalu, minyak mentah Brent untuk kontrak Juli melesat di atas 3% ke posisi US$ 109,26 per barel, sedangkan minyak WTI AS naik melebihi 4% menjadi US$ 105,42 per barel.

Badan Energi Internasional (IEA) melaporkan bahwa cadangan minyak bumi global saat ini terus menyusut dalam rekor kecepatan tertinggi demi menutupi kelangkaan pasokan. Blokade berkepanjangan di Selat Hormuz otomatis memicu efek domino yang mengancam daya beli masyarakat dan meningkatkan risiko resesi makro global.

Artikel terkait

Rekomendasi