Menteri keuangan negara-negara G7 berkumpul di Paris, Prancis, pada Senin (18/5/2026) untuk meredam ketegangan ekonomi global. Pertemuan dua hari ini juga bertujuan memperkuat koordinasi pasokan mineral kritis di tengah meningkatnya friksi perdagangan dunia, sebagaimana dilansir dari Internasional.
Perbedaan pandangan antaranggota G7, terutama dengan Amerika Serikat, menjadi latar belakang pertemuan ini. Selain itu, agenda utama difokuskan pada pembahasan ketidakseimbangan ekonomi global yang berpotensi memicu gejolak di pasar keuangan dunia.
Masalah pola pertumbuhan ekonomi menjadi perhatian serius dalam forum tersebut. Pola konsumsi dan investasi global saat ini dinilai menunjukkan ketimpangan yang signifikan antara China, Amerika Serikat, dan Eropa.
"Cara ekonomi global berkembang selama 10 tahun terakhir jelas tidak berkelanjutan," ujar Roland Lescure, Menteri Keuangan Prancis.
Pemerintah Prancis menilai China terlalu rendah dalam konsumsi domestik, sementara Amerika Serikat terlalu tinggi dalam konsumsi, dan Eropa masih tertinggal dalam investasi. Hubungan diplomatik Amerika Serikat dan China yang belum menghasilkan terobosan ekonomi signifikan turut membayangi pertemuan.
"Kami tidak sepakat dalam segala hal, terutama dengan mitra kami dari Amerika," kata Roland Lescure, Menteri Keuangan Prancis.
Ketegangan di Timur Tengah juga menjadi topik bahasan karena berdampak pada volatilitas pasar obligasi dan ancaman gangguan rantai pasok energi. Isu Selat Hormuz mencuat setelah pemerintah Amerika Serikat mengakhiri pengecualian sanksi untuk minyak Rusia yang diangkut lewat laut pada Sabtu lalu.
Inggris mendorong adanya langkah bersama untuk menekan inflasi dan mengurangi tekanan rantai pasok. Menteri Keuangan Inggris Rachel Reeves juga disebut akan menegaskan pentingnya menjaga kebebasan navigasi di Selat Hormuz serta mengurangi hambatan perdagangan antara Inggris dan Uni Eropa.
Di sisi lain, negara-negara G7 mempercepat upaya mengurangi ketergantungan terhadap China dalam pasokan mineral kritis dan rare earth. Saat ini, China masih mendominasi rantai pasok bahan baku penting untuk kendaraan listrik, energi terbarukan, hingga industri pertahanan.
"Tidak boleh ada lagi satu negara yang memonopoli bahan baku strategis seperti ini," tegas Roland Lescure, Menteri Keuangan Prancis.
G7 kini sedang membahas berbagai instrumen untuk menstabilkan pasar mineral kritis melalui proyek bersama. Upaya yang dipertimbangkan meliputi pembelian bersama, tarif, hingga skema perlindungan harga bagi produsen domestik.
Kendati demikian, sejumlah pihak menilai strategi bersama tersebut masih berada pada tahap awal. Faktor belum adanya kesepakatan strategi yang solid di internal pemerintah Amerika Serikat sendiri turut menjadi hambatan.
Pembentukan strategi bersama mengenai pasokan mineral kritis ini diperkirakan masih membutuhkan proses yang panjang. Pengamat menilai penyamaan persepsi antarnegara anggota memerlukan waktu yang tidak sebentar.
"pembentukan strategi bersama soal mineral kritis masih membutuhkan waktu panjang," kata Philip Luck, Direktur Program Ekonomi Center for Strategic and International Studies (CSIS).