Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat bukan disebabkan oleh memburuknya kondisi fiskal pemerintah. Fundamental fiskal Indonesia dinyatakan tetap sehat di tengah ketidakpastian global serta tekanan pasar keuangan internasional saat konferensi pers APBN KiTa di Jakarta pada Selasa (19/5), dilansir dari Media Indonesia.
Kesehatan finansial negara tersebut ditunjukkan oleh rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) yang konsisten bertahan di kisaran 40 persen. Pemerintah juga berkomitmen menjaga defisit APBN secara ketat agar tidak melewati ambang batas sebesar 3 persen dari PDB.
"Ada yang bilang kan, siapa ya? Bahwa gara-gara fiskal berantakan rupiah melemah. Fiskalnya bagus sekali kok," ujar Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.
Kondisi keuangan domestik diklaim masih relatif lebih aman dan terkendali apabila dibandingkan dengan beberapa negara lain yang kini sedang menghadapi tekanan ekonomi lebih berat. Purbaya Yudhi Sadewa menyebutkan bahwa perbaikan ekonomi nasional terus berjalan beriringan dengan stabilitas fiskal berkat kontribusi sektor swasta yang semakin kuat.
"Apalagi kalau kita pakai ukuran debt to GDP, kita masih di 40%. Yang lain sudah berantakan semua," ucap Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.
Pemerintah terus berupaya memastikan sektor swasta menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi serta menjaga inflasi tetap terkendali melalui kebijakan subsidi energi. Pelemahan nilai tukar rupiah dipastikan telah diantisipasi dan dihitung secara realistis dalam skema subsidi bahan bakar minyak (BBM) hingga akhir tahun.
"Jadi tidak usah khawatir, itu sudah kita perhitungkan," kata Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.
Meskipun demikian, situasi dunia diakui masih dibayangi ketidakpastian akibat eskalasi geopolitik di Timur Tengah yang mendongkrak harga komoditas global seperti minyak, emas, tembaga, dan CPO. Krisis global tersebut diperkirakan tidak akan selesai dalam waktu singkat, namun ketahanan ekonomi domestik dinilai tetap kokoh melalui sinergi fiskal dan moneter.
"Itu terjadi didesain oleh Pak Presiden. Artinya desain Pak Presiden benar, dan ke depan akan membaik terus kita," ujar Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.
Kinerja ekonomi Indonesia pada April 2026 menunjukkan indikator perbaikan yang diharapkan dapat meredam kekhawatiran publik. Pemerintah mencatat realisasi pembiayaan utang telah mencapai angka 36,7 persen dari pagu APBN 2026 untuk memastikan pengelolaan fiskal yang kredibel.