Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dipicu oleh kebisingan atau noise dari pengamat domestik. Pernyataan tersebut disampaikan dalam pertemuan dengan S&P di Washington DC, Amerika Serikat, pada Selasa (14/4/2026), sebagaimana dilansir dari Money.
Purbaya berpendapat faktor global bukan satu-satunya penyebab depresiasi mata uang Garuda, melainkan adanya kontribusi dari analisis internal di dalam negeri. Pada Jumat (24/4/2026), Menkeu menegaskan bahwa opini-opini tersebut membentuk ekspektasi pasar yang perlu dikendalikan melalui koordinasi otoritas terkait.
Data dari otoritas moneter menunjukkan perspektif yang berbeda mengenai posisi rupiah di pasar regional. Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, memberikan keterangan pada Kamis (23/4/2026) terkait kondisi terkini mata uang nasional terhadap dolar AS.
"Tekanan terhadap rupiah hari ini dipengaruhi oleh meningkatnya ketidakpastian global yang juga menekan mata uang regional" kata Destry Damayanti, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI).
Keterangan tersebut menjelaskan bahwa pelemahan rupiah secara tahun berjalan (year to date) sebesar 3,54 persen masih sejalan dengan tren mata uang di kawasan Asia. Namun, muncul kritik terhadap narasi pemerintah yang mengaitkan pelemahan tersebut dengan suara para pengamat dan analis domestik.
Pakar menilai penggunaan isu noise domestik sebagai alasan merupakan bentuk dramatisasi untuk menutupi persoalan fundamental ekonomi. Fenomena banyaknya pernyataan pejabat di muka umum justru dianggap sebagai sumber resonansi negatif yang memperkuat asimetris informasi di mata publik dan pelaku pasar.
Tinjauan teoritis menunjukkan bahwa komunikasi pejabat fiskal seharusnya berfungsi sebagai pemberi sinyal stabilitas makro yang konsisten. Perbedaan narasi antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia berisiko menciptakan benturan narasi yang memperbesar ketidakpastian dalam mekanisme ekspektasi rasional agen ekonomi.