Menkeu Purbaya Pindahkan Rp 76 Triliun ke Perbankan Akibat Pengetatan Likuiditas

Menkeu Purbaya Pindahkan Rp 76 Triliun ke Perbankan Akibat Pengetatan Likuiditas
Foto: Ilustrasi Menkeu Purbaya Pindahkan Rp 76 Triliun ke Perbankan Akibat Pengetatan Likuiditas.

| ÔùÅ Menkeu Purbaya memindahkan Rp 76 triliun ke perbankan akibat turunnya uang primer (M0) dan mengetatnya likuiditas. ÔùÅ Ia menduga BI menyerap likuiditas berlebih melalui instrumen seperti SRBI untuk menjaga stabilitas dan nilai tukar. ÔùÅ BI menegaskan kombinasi kebijakan ekspansifÔÇôkontraktif, termasuk pembelian SBN dan penerbitan SRBI, untuk menormalisasi pasar dan menarik inflow. |

| ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- |

JAKARTA, investortrust.id - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan alasan kembali memindahkan dana pemerintah sebesar Rp 76 triliun ke perbankan pada November 2025. Menurutnya suntikan dana tersebut dilakukan karena penurunan uang primer (M0) pada Oktober 2025.

ÔÇ£Saya juga bingung. Saya nggak peduli lagi, saya inject lagi. Saya masukin lagi Rp 76 triliun,ÔÇØ kata Purbaya, saat menghadiri CNBC Financial Forum 2025, di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (3/12/2025).

Dengan penempatan dana baru tersebut, Purbaya berharap akan terjadi kenaikan uang primer, yakni uang kartal dan giro perbankan yang ada di Bank Indonesia. Tetapi, Purbaya mendengar bahwa suku bunga perbankan kembali ketat.

ÔÇ£Sekarang karena saya lihat yield obligasi saya naik lagi dari 5,9% ke 6,3%ÔÇØ ujar dia.

Purbaya menduga kondisi ini terjadi karena terjadi penyerapan uang berlebih di bank sentral. ÔÇ£Di BI (Bank Indonesia) ada penyerapan uang lebih. Di SRBI mungkin untuk menjaga nilai tukar ya, saya nggak tahu, mungkin ada penyerapan di sana yang menekan itu ke bawah,ÔÇØ kata eks pimpinan LPS itu.

Sementara itu Deputi Gubernur Senior (DGS) BI, Destry Damayanti mengatakan lembaganya memang tidak hanya mengupayakan pertumbuhan, namun juga menjaga stabilitas. Dengan kata lain, BI memiliki kebijakan kontraksi dan ekspansif.

ÔÇ£Bahwa BI tidak hanya kontraksi, tapi BI juga ada ekspansinya yaitu kita beli SBN sepanjang 2025,ÔÇØ kata Destry.

Menurut data, BI telah membeli SBN mencapai Rp 289,91 triliun hingga 18 November 2025.

ÔÇ£Tapi memang dalam rangka stabilitas ada kontraksi, disampaikan tadi ada SRBI (Sekuritas Rupiah Bank Indonesia) yang kami terbitkan,ÔÇØ ujar dia.

Desty menjelaskan saat aliran modal asing keluar, BI memicu aliran masuk modal asing dengan SRBI. Tetapi, setelah suku bunga turun 125 basis poin (bps), imbal hasil SRBI juga mengalami penurunan sampai 200 bps.

ÔÇ£Kita coba menormalisasi rate SRBI, naik sedikit memang dibandingkan tiga minggu lalu. Tapi, kita lihat inflow mulai masuk ke SRBI dan SBN, ini dalam rangka normalisasi, stabilisasi,ÔÇØ jelas dia.

Artikel terkait

Rekomendasi