Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meminta masyarakat tidak panik menanggapi pelemahan nilai tukar rupiah yang terjadi belakangan ini saat ditemui di Kejaksaan Agung, Jakarta, Rabu (13/5/2026). Pemerintah mengklaim telah memahami sumber tekanan mata uang tersebut dan menjamin kondisi tetap terkendali berkat fundamental ekonomi nasional yang solid.
Dilansir dari Investor Daily, pergerakan rupiah pada perdagangan Rabu (13/5/2026) ditutup menguat 53 poin ke level Rp 17.475 per dolar AS setelah sempat menyentuh angka Rp 17.528. Meski fluktuatif, posisi ini masih berada di bawah asumsi nilai tukar APBN 2026 yang ditetapkan sebesar Rp 16.500 per dolar AS.
Menteri Keuangan menegaskan bahwa fondasi ekonomi saat ini jauh lebih kuat jika dibandingkan dengan masa krisis moneter beberapa dekade silam guna meyakinkan stabilitas pasar.
"Tidak perlu panik, karena fondasi ekonomi bagus, kami tahu betul kelemahan di mana dan bisa kami perbaiki," ujar Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.
Pemerintah tengah menyiapkan langkah strategis untuk menstabilkan pasar obligasi melalui skema Bond Stabilization Fund (BSF) khusus untuk tenor 10 tahun.
"Kita enggak akan sejelek seperti 1998 lagi, gak akan jelek malah. Kami akan cari langkah yang tepat, dengan fondasi ekonomi kuat, gak akan terlalu susah sepertinya," terang Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.
Purbaya menambahkan bahwa pihaknya terus memantau pergerakan modal asing yang mulai masuk kembali ke pasar domestik untuk memastikan stabilitas berkelanjutan.
"Kita gak masuk ke pasar bond langsung, tapi kita hanya jaga stabilitas bond market. Asing juga masuk ke sini kayaknya, dan sudah mulai stabil lagi. Kita lihat ke depan seperti apa, tetapi yang jelas kami monitor kondisi di pasar bond sekarang," kata Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah dipicu oleh ketidakpastian konflik Timur Tengah serta kenaikan harga minyak dunia. Faktor domestik juga memengaruhi permintaan valuta asing untuk pembayaran utang luar negeri, repatriasi dividen, dan kebutuhan musim haji.
"Sedangkan dari domestik, meningkatnya kebutuhan dolar secara musiman seperti pembayaran utang luar negeri dan pembayaran dividen serta kebutuhan untuk ibadah haji mendorong peningkatan permintaan dolar di pasar domestik," ujar Destry Damayanti, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia.
Bank Indonesia menyatakan akan menerapkan strategi intervensi melalui pasar spot dan instrumen moneter lainnya guna meredam volatilitas nilai tukar di pasar keuangan.
Data menunjukkan kepercayaan investor mulai pulih dengan aliran modal asing ke SBN dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang mencapai Rp 61,6 triliun sepanjang April 2026.