Istilah Thucydides Trap kembali memicu diskusi hangat dalam dinamika hubungan internasional antara Amerika Serikat (AS) dan China. Teori geopolitik ini kembali mencuat ke permukaan setelah Presiden China Xi Jinping menyinggungnya dalam pertemuan dengan Donald Trump, seperti dikutip dari Caritahu.
Thucydides Trap sendiri merupakan sebuah konsep dalam hubungan internasional untuk menggambarkan situasi ketika ada kekuatan besar baru yang bangkit dan menantang negara adidaya dominan. Kondisi ini dinilai meningkatkan risiko terjadinya konflik berskala besar atau perang terbuka.
Teori tersebut dipopulerkan oleh ilmuwan politik asal AS bernama Graham Allison melalui bukunya yang berjudul Destined for War: Can America and China Escape ThucydidesÔÇÖs Trap?. Konsep ini terinspirasi dari catatan sejarah sejarawan Yunani kuno, Thucydides, mengenai Perang Peloponnesos antara Athena dan Sparta.
Thucydides mencatat bahwa perang kala itu meletus akibat kebangkitan Athena yang memicu rasa takut pada Sparta akan kehilangan dominasinya. Dalam analogi modern, posisi Athena digambarkan sebagai China yang terus bangkit, sementara Sparta diibaratkan sebagai AS yang menjadi kekuatan dominan dunia.
Di bawah kepemimpinan Xi Jinping, China mengalami lonjakan pengaruh yang masif di sektor ekonomi, militer, hingga geopolitik global. China secara agresif memperluas proyek global seperti Belt and Road Initiative (BRI), memperkuat sektor militer, meningkatkan penguasaan teknologi, hingga mempertegas klaim wilayah di Laut China Selatan dan Taiwan.
Perkembangan pesat ini memicu kecemasan di pihak AS dan negara-negara Barat terkait potensi bergesernya tatanan global. Hubungan bilateral kedua negara juga kerap memanas akibat perang dagang, pembatasan teknologi dan chip semikonduktor, isu Taiwan, sengketa Laut China Selatan, hingga rivalitas kecerdasan buatan (AI).
Potensi Perang Terbuka dan Kritik Teori
Meskipun teori ini menyoroti risiko konflik yang tinggi, sejumlah pakar berpendapat bahwa perang bukanlah sebuah kepastian. Sejarah mencatat beberapa kasus di mana negara yang bangkit dan negara dominan berhasil menghindari perang melalui jalur diplomasi, kerja sama ekonomi, serta keseimbangan kepentingan.
Para pengamat melihat interaksi AS dan China saat ini masih berada dalam koridor kompetisi strategis, bukan mengarah pada perang terbuka. Kendati demikian, ketegangan di wilayah Indo-Pasifik tetap menjadi perhatian global karena memengaruhi ekonomi dunia, jalur perdagangan, dan stabilitas keamanan regional.
Teori Thucydides Trap ini juga menuai kritik dari beberapa akademisi karena dianggap terlalu menyederhanakan hubungan internasional modern. Kondisi dunia saat ini dinilai jauh berbeda dengan zaman Yunani kuno karena kehadiran globalisasi ekonomi, organisasi internasional, kepemilikan senjata nuklir, ketergantungan perdagangan antarnegara, serta diplomasi multilateral.
Memahami Thucydides Trap menjadi penting karena persaingan negara besar ini berdampak langsung pada ekonomi, perdagangan, keamanan, dan politik global. Saat hubungan AS dan China memanas, dampaknya akan meluas hingga ke negara berkembang termasuk Indonesia, mulai dari gangguan rantai pasok industri, investasi, nilai tukar mata uang, hingga stabilitas kawasan Asia Pasifik.