Potensi penguatan daya saing produk lokal di pasar internasional kini menjadi fokus utama pemerintah seiring dengan pergerakan nilai tukar rupiah. Menteri Perdagangan Budi Santoso melihat situasi ini sebagai peluang untuk memacu pengiriman barang ke luar negeri agar pertumbuhan ekonomi tetap terjaga.
Dilansir dari Investor Daily, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan nilai ekspor pada Maret 2026 mencapai US$ 22,53 miliar. Angka tersebut mencatatkan kontraksi sebesar 3,1% secara tahunan (year on year/yoy).
Akumulasi kinerja ekspor sepanjang periode Januari hingga Maret 2026 tercatat tumbuh tipis 0,34% yoy dengan total nilai US$ 66,85 miliar. Penurunan pada Maret di segmen nonmigas dipicu oleh merosotnya sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan hingga 44,14%.
Sektor pertambangan juga mengalami penyusutan sebesar 2,15% yoy, diikuti oleh industri manufaktur yang turun 1,26% yoy. Batu bara menjadi komoditas unggulan yang mengalami penurunan terdalam, yakni mencapai 11,51% yoy selama kuartal pertama tahun ini.
Di sisi lain, beberapa komoditas masih menunjukkan tren positif. Besi dan baja mengalami kenaikan tipis 0,56% yoy, sementara CPO beserta produk turunannya berhasil tumbuh sebesar 3,56% yoy.
Kondisi ekspor ini memberikan pengaruh langsung terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), di mana kontribusinya tertahan di angka 21,22%. Perkembangan distribusi ekspor tersebut hanya meningkat sebesar 0,90% yoy.
Tantangan ekonomi semakin nyata dengan posisi nilai tukar rupiah yang melemah 4,64% secara tahun berjalan (year to date/ytd). Berdasarkan kurs JISDOR Bank Indonesia pada 13 Mei 2026, rupiah berada di level Rp 17.496 per dolar AS.
Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan bahwa pelemahan mata uang ini harus dikelola agar tidak menjadi penghambat perdagangan luar negeri. Pemerintah berkomitmen memanfaatkan momentum ini untuk meningkatkan volume pengiriman barang ke pasar global.
"Kita dorong terus jangan sampai nanti pertumbuhannya lebih kecil. Makanya salah satu cara yang kita lakukan, kita mendorong teman-teman untuk terus meningkatkan ekspor. Mudah-mudahan nanti April tetap naik terus ya," ujar Budi di Jakarta.
Budi menilai bahwa dalam kondisi apapun, pemerintah wajib mencari solusi agar arus ekspor tetap berjalan stabil bahkan menunjukkan tren peningkatan. Peningkatan daya saing produk Indonesia menjadi kunci utama dalam memenangkan persaingan di tengah fluktuasi mata uang.
"Pokoknya, apa pun kondisinya, kita harus terus mencari jalan keluar agar ekspor kita tetap berjalan, bahkan terus meningkat," kata Budi.
Kementerian Perdagangan kini tengah berupaya memperluas jangkauan pasar tujuan ekspor baru bersama para pelaku usaha. Langkah ini diambil untuk memitigasi dampak ketidakpastian ekonomi global serta konflik geopolitik yang masih menekan perdagangan internasional.
Meskipun menghadapi berbagai tekanan eksternal, pemerintah tetap optimis bahwa sektor ekspor akan tetap menjadi pilar utama penyokong ekonomi nasional. Sektor ini juga diandalkan untuk menjaga stabilitas neraca perdagangan Indonesia di masa mendatang.