Dari sisi industri, kenaikan BI Rate memang masih membuka peluang bagi perbankan untuk memperoleh imbal hasil lebih tinggi dari instrumen keuangan seperti Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Namun, konsekuensinya adalah naiknya cost of fund karena bank perlu menaikkan bunga simpanan untuk menjaga likuiditas.
Kepala Pusat Makroekonomi INDEF, M Rizal Taufikurahman, menilai tekanan ini akan membuat penyaluran kredit menjadi lebih selektif.
Menakar Dampak Pidato Ekonomi Prabowo di Rapat Paripurna DPR terhadap IHSG
Arah IHSG bergantung pada pidato Presiden Prabowo hari ini. Akankah pasar menemukan titik stabilisasi atau justru kembali kehilangan arah?
4 BPR Merger Hasilkan Bank Beraset Rp 1,04 Triliun
Ia menyebut bank dengan basis dana murah atau current account saving account (CASA) kuat akan lebih tahan, sementara bank kecil berpotensi menghadapi tekanan margin lebih besar.
"Transmisi kenaikan suku bunga biasanya lebih cepat ke deposito dibanding kredit," ujarnya.
Menurut Rizal, bunga kredit cenderung naik secara bertahap, terutama untuk kredit baru dan refinancing, karena bank tetap mempertimbangkan risiko perlambatan ekonomi dan kemampuan bayar debitur. Kondisi ini membuat sektor kredit yang sensitif terhadap bunga seperti properti, otomotif, dan konsumsi berpotensi melambat.
Ia juga menilai perbankan akan lebih fokus pada sektor berisiko rendah dan produktif, termasuk pembiayaan proyek strategis nasional serta sektor prioritas seperti pangan, energi, dan hilirisasi yang selama ini menjadi motor utama bank BUMN.
Senada, Head of Research LPPI Trioksa Siahaan menyebut kenaikan BI Rate akan meningkatkan biaya dana dan mendorong kenaikan bunga kredit, yang pada akhirnya ikut menekan pertumbuhan kredit. Ia memperkirakan laju kredit bisa melambat ke level single digit jika tekanan suku bunga bertahan.
Sementara itu, Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, melihat dampak berbeda dari sisi funding. Ia menilai kenaikan suku bunga justru dapat memperkuat penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) karena masyarakat lebih memilih menyimpan dana di perbankan.
Namun, ia memperkirakan pertumbuhan kredit akan melambat ke 8,94% meski DPK bisa tumbuh hingga 14,2%. Di sisi lain, risiko kualitas kredit juga meningkat dengan potensi kenaikan rasio kredit bermasalah (NPL) ke sekitar 2,52%.
Dari data Bank Indonesia, kredit per April 2026 masih tumbuh 9,98% secara tahunan, sedikit lebih tinggi dibanding Maret 2026 sebesar 9,49%. Namun, BI mencatat suku bunga kredit relatif stabil di 8,73% dan suku bunga deposito 1 bulan di 4,16%.
Meski BI Rate naik, Bank Indonesia menegaskan likuiditas perbankan masih longgar. Gubernur BI Perry Warjiyo menyebut pihaknya terus menjaga ketersediaan likuiditas, antara lain melalui pembelian SBN di pasar sekunder yang mencapai Rp 140,57 triliun hingga 19 Mei 2026.
"Likuiditas di pasar uang dan perbankan lebih dari cukup untuk mendukung penyaluran kredit," ujarnya.
BI juga mendorong perbankan meningkatkan efisiensi agar kenaikan suku bunga tidak langsung diteruskan ke bunga kredit. Selain itu, kebijakan insentif likuiditas makroprudensial (KLM) telah disalurkan sebesar Rp 424,7 triliun untuk menjaga fungsi intermediasi.
Di level bank, pelaku industri mulai menyiapkan strategi menghadapi era suku bunga tinggi. BTN misalnya, menekankan penguatan dana murah CASA dan manajemen risiko melalui stress test berkala.
Sementara BRI menyatakan tetap fokus pada selective growth, khususnya di segmen UMKM dan sektor produktif, dengan dukungan penguatan transaction banking. Hingga kuartal I-2026, BRI mencatat kredit tumbuh 13,68% yoy.
KB Bank juga mengambil langkah serupa dengan fokus pada pembiayaan wholesale dan kredit berkualitas, termasuk korporasi dan SME, serta penguatan Korean Link Business untuk mendukung investor Korea di Indonesia.
Secara umum, meski masih ada ruang pertumbuhan, kenaikan BI Rate diperkirakan membuat industri perbankan masuk fase ekspansi yang lebih hati-hati, dengan penekanan pada kualitas kredit dibanding sekadar pertumbuhan volume.