Financial Planner sekaligus CEO dan Founder Finansialku Melvin Mumpuni membagikan strategi pengelolaan portofolio bagi investor di tengah tren koreksi pasar saham akibat pengumuman rebalancing indeks global dan pelemahan nilai tukar rupiah pada Jumat (15/5/2026).
Kinerja pasar modal domestik saat ini sedang tertekan oleh sentimen pengumuman rebalancing Morgan Stanley Capital International (MSCI) serta FTSE Russel, sebagaimana dilansir dari Investasi. Faktor eksternal tersebut diperberat dengan posisi kurs rupiah yang terjerembap ke level Rp 17.596 per dolar Amerika Serikat (AS).
Menyikapi fluktuasi ini, langkah rebalancing portofolio disarankan tetap mengutamakan aspek likuiditas dan kualitas aset. Instrumen saham dinilai masih potensial untuk orientasi jangka panjang, terutama pada saham-saham blue chip atau undervalued yang memiliki fundamental solid, utang rendah, serta rutin membagikan dividen melalui metode dollar-cost averaging.
"Saham sektor konsumer primer, perbankan besar, atau komoditas tertentu biasanya lebih resilien," ujar Melvin Mumpuni, CEO dan Founder Finansialku pada Jumat (15/5/2026).
Sebagai alternatif pelindung nilai dari pelemahan mata uang, instrumen seperti emas dengan historis imbal hasil 8% hingga 11% per tahun dapat dikoleksi. Selain itu, Surat Berharga Negara (SBN) atau reksadana pendapatan tetap menawarkan kupon menarik berkisar 6,5% sampai 7,5% per tahun, sedangkan reksadana pasar uang dan deposito yang menawarkan imbal hasil 3% hingga 5% per tahun efektif untuk menjaga likuiditas dana jangka pendek.
Dalam menyusun komposisi portofolio, investor agresif direkomendasikan mengalokasikan 50% saham, 30% obligasi, dan 20% pasar uang atau emas. Sementara itu, tipe investor moderat disarankan membagi porsi dengan komposisi 30% saham, 50% obligasi, dan 20% pasar uang, sedangkan bagi investor konservatif alokasinya dipatok sebesar 30% saham, 50% obligasi, dan 20% pasar uang.
Proses penataan ulang aset ini ditekankan harus berjalan secara objektif dan penuh perhitungan matang berdasarkan prospek masa depan, bukan karena dorongan emosional semata.
"Di setiap kondisi seperti penurunan IHSG dan kenaikan dolar AS, pasti ada potensi atau peluang," tandas Melvin Mumpuni, CEO dan Founder Finansialku.