Pemulihan margin dan normalisasi biaya bahan baku pada kuartal akhir tahun lalu diperkirakan menjadi pendorong utama kebangkitan performa PT Mayora Indah Tbk (MYOR) pada 2026. Perusahaan mencatatkan performa kuartal IV-2025 yang kuat walaupun laba bersih tahunan sempat tertekan.
MNC Sekuritas melalui riset terbarunya memproyeksikan pertumbuhan laba bersih perseroan sebesar 22 persen menjadi Rp3,3 triliun hingga Rp3,5 triliun tahun ini. Seperti dilansir dari Investortrust, pendapatan emiten produsen makanan ini diestimasi meningkat menjadi Rp41,0 triliun atau naik 6,0 persen secara tahunan.
Pada tahun lalu, laba bersih Mayora mengalami penurunan sebesar 4,5 persen menjadi Rp2,9 triliun. Angka tersebut setara dengan 104,0 persen dari perkiraan MNC Sekuritas dan mencapai 96,3 persen dari konsensus pasar. Penurunan laba bersih ini sejalan dengan pendapatan yang terkoreksi 7,2 persen menjadi Rp38,7 triliun.
Memasuki kuartal IV-2025, perusahaan berhasil membalikkan keadaan dengan membukukan pendapatan sebesar Rp11,5 triliun. Perolehan ini menunjukkan pertumbuhan sebesar 10,5 persen secara tahunan dan melonjak 23,1 persen dibandingkan kuartal sebelumnya.
Peningkatan margin keuntungan pada periode tersebut mendorong laba bersih perusahaan tumbuh sebesar 3,1 persen menjadi Rp1,0 triliun. Analis MNC Sekuritas Catherine Florencia M memproyeksikan perseroan akan mencatatkan pertumbuhan yang lebih kuat pada tahun ini.
Estimasi pertumbuhan performa keuangan tersebut didasarkan pada momentum penguatan di kuartal akhir tahun lalu. Perhitungan ini juga telah mempertimbangkan faktor nilai tukar mata uang asing serta kenaikan harga minyak dunia dalam beberapa bulan terakhir.
Target Manajemen dan Strategi Ekspansi
Manajemen memperkirakan pertumbuhan pendapatan perusahaan dapat menyentuh angka 5 hingga 8 persen. Target ini didukung dengan proyeksi margin kotor pada kisaran 23 hingga 25 persen dan perolehan laba bersih sebesar Rp3,3 triliun sampai Rp3,5 triliun.
Peningkatan volume penjualan diperkirakan menjadi penyokong utama pertumbuhan performa emiten berkode saham MYOR ini. Langkah ini diperkuat melalui strategi ekspansi produk baru serta optimalisasi pasar ekspor ke berbagai negara tujuan.
Di pasar China, perusahaan mulai mengalihkan fokus penjualan dari produk musiman ke produk konsumsi harian demi menjaga stabilitas permintaan. Sementara di Filipina, peluncuran produk baru seperti Kopiko Supremo diharapkan mampu mengembalikan momentum penjualan setelah sempat tertekan kenaikan harga kopi.
Perluasan portofolio produk juga terus dilakukan di luar kategori kopi. Langkah ini dijalankan dengan memperkuat lini bisnis segmen biskuit dan wafer melalui merek-merek populer seperti Calcheese dan Energen.
Meskipun demikian, penjualan dalam jangka pendek masih menghadapi potensi tekanan. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh proyeksi pertumbuhan akibat normalisasi pasca-Lebaran, kendala logistik, serta keterbatasan ketersediaan kontainer.
MNC Sekuritas memilih untuk merevisi naik target harga saham MYOR menjadi Rp2.400 dengan rekomendasi beli. Target harga baru ini mencerminkan valuasi price to earnings ratio (PER) sebesar 16,1 kali dan price to book value (PBV) 2,6 kali untuk tahun 2026.