PT Bank Maybank Indonesia Tbk. (Maybank Indonesia) baru saja merilis laporan keuangan untuk periode kuartal pertama tahun 2026. Bank dengan kode emiten BNII ini berhasil mencatatkan Laba Setelah Pajak dan Kepentingan Nonpengendali (PATAMI) sebesar Rp299 miliar.
Pada periode yang berakhir Maret 2026 tersebut, pendapatan bunga bersih atau Net Interest Margin (NII) perusahaan menyentuh angka Rp1,81 triliun. Capaian ini menunjukkan kenaikan sebesar 2,1% dibandingkan tahun sebelumnya, yang didorong oleh perbaikan komposisi dana serta penurunan biaya bunga.
Meskipun kondisi ekonomi global cukup dinamis, perusahaan mampu menjaga margin bunga bersih (NIM) tetap stabil di angka 4,3% secara tahunan (Y-o-Y). Stabilitas ini mencerminkan pengelolaan aset dan liabilitas yang cukup efektif di tengah fluktuasi pasar.
Presiden Direktur Maybank Indonesia, Steffano Ridwan, menjelaskan bahwa performa perusahaan pada tiga bulan pertama tahun 2026 ini sangat dipengaruhi oleh dinamika politik dunia. Adanya tekanan geopolitik global menyebabkan volatilitas pasar keuangan yang cukup tinggi.
Menurut Steffano, perusahaan melakukan langkah penyesuaian strategi dengan berfokus pada peluang pertumbuhan di segmen ritel dan non-ritel. Selain itu, sektor korporasi (Global Banking) serta Perbankan Syariah tetap menjadi prioritas utama guna menghadapi ketidakpastian ekonomi.
Ke depannya, Maybank Indonesia berkomitmen untuk terus menangkap peluang melalui ekosistem "Whole of Maybank". Langkah strategis ini sejalan dengan visi besar grup yang terangkum dalam strategi ROAR30 untuk memperkuat fondasi bisnis inti.
Dinamika Pendapatan Non-Bunga dan Operasional
Gejolak pasar keuangan global di awal tahun 2026 berdampak langsung pada aktivitas perdagangan surat berharga dan valuta asing di divisi Global Markets (GM). Hal ini menyebabkan pendapatan fee dari sektor tersebut terkoreksi menjadi Rp20 miliar.
Kondisi serupa juga terlihat pada pendapatan fee di luar sektor GM yang secara umum mengalami penurunan. Namun, terdapat titik terang pada segmen Premier Wealth yang justru mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 20,0% secara tahunan.
Secara kumulatif, Pendapatan Non-Bunga (NOII) bank tercatat turun 29,6% menjadi Rp402 miliar. Hal ini pun berdampak pada total Pendapatan Operasional Bruto yang mencapai Rp2,22 triliun, sedikit di bawah angka Rp2,35 triliun pada kuartal yang sama di tahun 2025.
Dari sisi pengeluaran, beban operasional mengalami kenaikan sebesar 4,5% seiring dengan peningkatan aktivitas bisnis bank. Situasi ini membuat laba operasional sebelum pencadangan (PPOP) berada di posisi Rp523 miliar.
Meski demikian, manajemen risiko yang ketat membuahkan hasil positif pada penurunan beban pencadangan sebesar 47,9% menjadi Rp123 miliar. Penurunan signifikan ini mencerminkan kualitas aset yang semakin sehat dan penerapan prinsip kehati-hatian yang konsisten.
Perkembangan Penyaluran Kredit dan Simpanan
Hingga akhir Maret 2026, fundamental bisnis inti Maybank Indonesia tetap terjaga dengan pertumbuhan kredit di berbagai lini utama. Perbaikan profil pendanaan turut mendukung kestabilan bank dalam menyalurkan pembiayaan kepada masyarakat dan pelaku usaha.
Kualitas aset bank juga menunjukkan tren positif, di mana rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) gross turun ke level 2,3%. Sementara itu, rasio NPL net berada di angka 1,4%, lebih baik dibandingkan periode Maret 2025 yang masing-masing di level 2,4% dan 1,5%.
Rincian pertumbuhan penyaluran kredit Maybank Indonesia berdasarkan segmen :
- Kredit non-ritel Community Financial Services (CFS) tumbuh 7,1% menjadi Rp39,89 triliun.
- Segmen Business Banking atau komersial melonjak 15,6% dengan nilai Rp17,46 triliun.
- Kredit Small and Medium Enterprise (SME+) mengalami kenaikan sebesar 12,3%.
- Sektor ritel CFS secara keseluruhan tumbuh 4,1% yang ditopang pembiayaan otomotif.
- Pembiayaan kartu kredit dan KTA turut naik sebesar 6,7% secara tahunan.
Di sisi lain, kredit korporasi Global Banking (GB) tercatat mengalami penurunan sebesar 12,4%. Namun, segmen Large Local Corporate (LLC) mulai menunjukkan tren pemulihan yang diharapkan akan tercatat secara maksimal pada periode laporan berikutnya.
Secara total, penyaluran kredit tetap stabil pada angka Rp121,99 triliun dengan aset perusahaan meningkat 1,2% menjadi Rp192,17 triliun. Simpanan nasabah juga tumbuh 6,1% berkat lonjakan saldo giro yang mencapai 37,5%.
Strategi bank untuk mengoptimalkan biaya dana terlihat dari penurunan deposito berjangka sebesar 12,3%. Langkah ini berhasil mendongkrak rasio dana murah atau CASA menjadi 61,2%, naik signifikan dari posisi 53,0% pada tahun lalu.
Presiden Komisaris Maybank Indonesia, Dato’ Sri Khairussaleh Ramli, menyatakan bahwa penguatan fundamental di sektor UKM adalah kunci. Hal ini dianggap sebagai arah strategis grup untuk memastikan pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan.
Ketahanan Modal dan Perbankan Syariah
Kesehatan finansial Maybank Indonesia juga tercermin dari posisi permodalannya yang sangat kuat pada kuartal pertama tahun ini. Capital Adequacy Ratio (CAR) tercatat sebesar 26,3%, sementara rasio Common Equity Tier 1 (CET1) berada di level 25,2%.
Ringkasan indikator likuiditas dan permodalan bank :
| Indikator Keuangan | Posisi Q1 2026 |
|---|---|
| Capital Adequacy Ratio (CAR) | 26,3% |
| Loan-to-Deposit Ratio (LDR) | 85,5% |
| Liquidity Coverage Ratio (LCR) | 146,2% |
| Net Stable Funding Ratio (NSFR) | 112,4% |
Data di atas menunjukkan bahwa bank memiliki ketahanan likuiditas yang sangat memadai untuk mendukung operasional harian. Rasio-rasio tersebut berada jauh di atas ketentuan minimum yang ditetapkan oleh regulator keuangan.
Sektor Perbankan Syariah Maybank Indonesia juga menorehkan prestasi gemilang dengan pertumbuhan pembiayaan sebesar 10,4% menjadi Rp32,23 triliun. Sektor ini kini menyumbang sekitar 30,2% dari total portofolio pembiayaan bank secara keseluruhan.
Salah satu inovasi penting adalah peluncuran Shariah Restricted Investment Account (SRIA), yang merupakan produk pertama sejenis di Indonesia. Hingga saat ini, nilai transaksi SRIA telah menembus angka Rp500 miliar dalam perannya memfasilitasi kebutuhan investor khusus.
Kualitas pembiayaan syariah juga membaik dengan rasio Non-Performing Financing (NPF) gross yang turun ke posisi 2,2%. Perbankan Syariah Maybank berhasil membukukan laba sebelum pajak sebesar Rp226 miliar, melonjak drastis 52,1% secara tahunan.
Pencapaian ini didukung oleh efisiensi biaya dana serta peningkatan pendapatan fee dari layanan Shariah Wealth Management. Dengan hasil ini, unit usaha syariah semakin memperkuat posisi Maybank Indonesia sebagai pemimpin pasar di industri keuangan syariah tanah air.