PT Bank Maybank Indonesia Tbk mengandalkan transformasi digital sebagai strategi utama dalam menghadapi persaingan industri perbankan menjelang pemisahan atau spin-off unit usaha syariah (UUS). Langkah ini diambil seiring posisi aset perusahaan yang mendekati batas wajib pemisahan sesuai regulasi Otoritas Jasa Keuangan pada Rabu (6/5/2026).
Dilansir dari Money, Direktur UUS Maybank Indonesia, Romy H. Buchari, menjelaskan bahwa saat ini aset unit syariah perusahaan telah menyentuh angka sekitar Rp 44 triliun. Angka tersebut kian mendekati ambang batas ketentuan spin-off sebesar Rp 50 triliun yang ditetapkan oleh regulator.
"(Aset) kita sudah ada di sekitar Rp 44 triliunan ya. Tentunya kita semua tahu threshold di Rp 50 triliun. Itu tidak lama lagi, maka sebab itu dari sekarang kita sudah mulai mempersiapkan," ujar Romy, Direktur UUS Maybank Indonesia.
Persiapan sejak dini dinilai krusial karena bank syariah hasil pemisahan tersebut nantinya akan beroperasi sebagai entitas mandiri dengan skala yang lebih kecil dibandingkan induknya. Romy memprediksi tantangan akan semakin kompetitif karena entitas baru harus bersaing dengan bank syariah besar lainnya maupun perbankan konvensional.
"Dan enggak hanya teman-teman di perbankan syariah tapi teman-teman di perbankan (konvensional). Karena the way we look at syariah or Islamic banking is that it's an inclusive thing. Not only for certain individuals, tapi for everyone. Syariah banking is for everyone," imbuhnya.
Dalam upaya memperluas jangkauan pasar, Maybank Indonesia memandang pembukaan kantor cabang fisik secara masif bukan merupakan langkah yang realistis. Perusahaan lebih memilih digitalisasi sebagai penggerak utama untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing di tengah perubahan perilaku nasabah yang mulai beralih ke teknologi.
"That's why we're not in the position to start building 2.000 branches physically. Very difficult. But we will need to be able to capture the markets. That's why digital is a big enabler," ungkap Romy.
Sebagai wujud implementasi strategi tersebut, Maybank meluncurkan Amanah Pro, sebuah platform digital yang mengintegrasikan ekosistem layanan syariah termasuk perjalanan haji dan umrah. Platform ini diproyeksikan menjadi fondasi bisnis utama yang akan diwariskan kepada entitas perbankan syariah baru setelah proses pemisahan resmi selesai.
"And we hope again, this (Amanah Pro) will be a legacy that will be brought forward nanti to the new entity when the time comes," kata Romy.
Selain fokus pada penguatan ekosistem digital domestik, Maybank juga menargetkan penarikan investasi asing dengan memanfaatkan jaringan global perusahaan. Romy menyebutkan investor dari kawasan Timur Tengah akan diarahkan untuk mendanai proyek-proyek strategis berskala besar di dalam negeri.
"That's what we want to do. We want to be, again, we want to be a mainstream motor or engine for the Indonesian economy. Not just a niche," tutup Romy.