Masyarakat kini mulai meninggalkan metode konvensional yang mengandalkan banyak rekening bank berbeda untuk memisahkan berbagai kebutuhan keuangan sehari-hari.
Perubahan gaya hidup digital tersebut mendorong publik beralih pada pemanfaatan satu ekosistem aplikasi yang dinilai lebih praktis dan personal. Alokasi penyimpanan dana masyarakat di perbankan digital pun tercatat mengalami lonjakan signifikan.
Berdasarkan data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang dilansir dari Money, pangsa simpanan pada bank digital mengalami kenaikan dari 0,8 persen pada Maret 2022 menjadi 1,8 persen pada Maret 2026. Porsi jumlah rekening bank digital terhadap total rekening bank umum juga melonjak pesat dari 4 persen menjadi 22 persen pada periode yang sama.
Kenaikan ini dipicu oleh integrasi bank digital ke dalam ekosistem seperti lokapasar, transportasi, dan dompet digital yang meningkatkan keterikatan nasabah.
Direktur Group Riset Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Seto Wardono memaparkan bahwa integrasi sistem menjadi faktor utama penguatan posisi bank digital di masyarakat.
"Beberapa bank digital juga berada dalam ekosistem digital misalnya marketplace, transportasi, e-wallet, sehingga meningkatkan engagement nasabah penyimpan dengan bank," jelas Seto sebagaimana diberitakan Kompas.com, Selasa (12/5/2026).
Fleksibilitas pengelolaan dana ini diaplikasikan oleh para penyedia layanan lewat fitur pemisahan pos anggaran otomatis di dalam satu rekening.
Head of Retail Banking Brand and Marketing Bank Jago Michael Hartawan menjelaskan bahwa inovasi tersebut mengadopsi budaya lokal masyarakat dalam mengelola uang.
"Kami percaya bahwa setiap uang punya tempat dan tujuan, maka kami mengembangkan fitur Kantong (pocket) di Aplikasi Jago yang dapat dipersonalisasi hingga 60 Kantong," ujar Michael kepada Kompas.com, Selasa (5/5/2026).
Transformasi ini sekaligus mengubah fungsi dasar rekening perbankan yang kini menjadi pusat kendali keuangan terpadu.
"With Kantong, nasabah bisa memberi makna pada setiap rupiah, mana untuk kebutuhan harian, tabungan, hingga tujuan jangka panjang. Tanpa harus membuka banyak rekening, mereka tetap bisa merasakan disiplin finansial dan kontrol yang lebih rapi," kata Michael.
Menurutnya, efisiensi menjadi prioritas utama yang dicari oleh konsumen modern dalam aktivitas transaksi harian mereka.
"Pengguna ingin pengelolaan uang yang lebih simpel, praktis, dan tetap membantu mereka disiplin mengatur kebutuhan finansial," katanya.
Metode pemisahan dana digital ini dirasakan langsung manfaatnya oleh pekerja swasta asal Jakarta Selatan bernama Maya (36) yang sebelumnya kesulitan mengontrol tabungan.
"Saya niatnya nabung, tapi pas lihat saldo masih banyak jadi kepakai lagi. Kadang buat jajan, kadang impulsif beli tiket konser atau kulineran," ujarnya saat dihubungi Kompas.com, Selasa (12/5/2026).
Maya menilai kehadiran pembagian pos anggaran digital mempermudah dirinya dalam menetapkan batas pengeluaran bulanan.
"Ternyata lebih gampang ngatur uang karena tiap kebutuhan punya pos sendiri. Jadi, lebih tahu batas pengeluarannya," kata Maya.
Penggunaan fitur bersama dalam aplikasi tersebut juga membantu transparansi alokasi dana ketika melakukan kegiatan kelompok.
"Biasanya kalau liburan bareng atau patungan suka bingung uangnya tercampur. Kalau pakai Kantong Bersama jadi lebih jelas karena semua bisa lihat alokasinya," ujar Maya.
Pemisahan otomatis membuat nasabah lebih mawas diri terhadap batasan dana yang boleh dibelanjakan.
"Kalau dulu saldo kelihatan besar terus rasanya aman dipakai. Sekarang karena sudah dipisah, jadi lebih sadar mana uang yang memang boleh dipakai dan mana yang harus disimpan," ujarnya.
Saat ini, Maya memanfaatkan sistem otomasi anggaran tersebut untuk mengumpulkan dana liburan akhir tahun.
"Sekarang tinggal konsisten isi kantong tabungan saja," katanya sambil tertawa.
Penyedia layanan perbankan kini turut menyematkan teknologi pembelajaran mesin untuk mengategorikan rincian pemasukan dan pengeluaran nasabah secara otomatis.