Masyarakat Mulai Selektif Kelola Keuangan Akibat Ketidakpastian Ekonomi Global

Masyarakat Mulai Selektif Kelola Keuangan Akibat Ketidakpastian Ekonomi Global
Foto: Ilustrasi Masyarakat Mulai Selektif Kelola Keuangan Akibat Ketidakpastian Ekonomi Global.

Tekanan ekonomi dan kenaikan biaya hidup memicu perubahan pola konsumsi masyarakat yang kini cenderung lebih berhati-hati dalam mengelola pengeluaran non-prioritas. Perilaku ini muncul sebagai respons terhadap ketidakstabilan kondisi global yang mulai berdampak langsung pada daya beli harian.

Dikutip dari Money, banyak warga kini lebih mendahulukan kebutuhan dasar dan menunda belanja yang dianggap tidak mendesak. Tren ini terlihat dari berkurangnya kebiasaan makan di luar rumah serta meningkatnya penggunaan transportasi publik untuk menekan biaya bahan bakar dan parkir.

Strategi curating atau memilah pengeluaran menjadi pilihan bagi sebagian pekerja swasta untuk tetap bisa menikmati hobi namun dengan anggaran yang lebih terukur. Salah satu warga, Lilis, mengaku tetap membeli jajanan namun kini lebih mengutamakan pedagang kecil di pinggir jalan demi efisiensi.

"Di tengah situasi ekonomi sekarang, lebih ke arah curating, not just cutting sih. Kalau memang lagi pengin jajan ya tetap jalan, tapi sekarang lebih pilih-pilih tempat saja dan lebih mengutamakan pedagang kecil pinggir jalan," ujar Lilis.

Langkah serupa diambil oleh Celia Karenina, seorang ibu rumah tangga yang mulai memangkas kebutuhan tersier keluarganya. Ia memilih untuk mengurangi frekuensi membeli kopi di kedai dan lebih sering menyeduh kopi sendiri di rumah demi menjaga stabilitas keuangan keluarga.

"Iya, sudah mulai ngurangin. Ngopi sesekali aja kalau diajak teman, mungkin sebulan sekali. Selebihnya bikin kopi sendiri di rumah," kata Celia Karenina.

Celia menegaskan bahwa pengetatan anggaran ini sangat diperlukan di tengah situasi saat ini yang menuntut masyarakat untuk lebih adaptif. Ia kini lebih selektif dalam membelanjakan uang agar kebutuhan utama anak-anaknya tetap terpenuhi secara maksimal.

"Dulu lebih sering ngopi dibanding sekarang. Pokoknya sekarang lebih mengetatkan ikat pinggang demi kebutuhan yang lebih prioritas," ujarnya.

Selain sektor konsumsi, peralihan moda transportasi juga menjadi tren penghematan yang signifikan. Penggunaan KRL Commuter Line dan angkutan umum lainnya dinilai jauh lebih ekonomis jika dibandingkan dengan kendaraan pribadi atau layanan transportasi daring yang biayanya kian meningkat.

Biaya transportasi online yang bisa mencapai lebih dari Rp 1 juta per bulan menjadi alasan utama warga mulai meninggalkan ketergantungan pada aplikasi tersebut. Efisiensi ini memberikan ruang napas lebih bagi anggaran bulanan rumah tangga untuk dialokasikan pada pos lain.

"Menggunakan transportasi umum saja sudah membuat saya berhemat ratusan ribu tiap harinya. Belum lagi, kalau saya juga mengurangi penggunaan ojol dan membawa bekal," kata Jurnalis Kompas.com dalam laporannya.

Tantangan Ekonomi dan Resiliensi Domestik

Kondisi ekonomi Indonesia saat ini memang dibayangi oleh ketidakpastian global, mulai dari konflik AS-Iran hingga pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Faktor-faktor eksternal tersebut secara perlahan mulai mendorong kenaikan harga bahan baku di pasar domestik.

Meski demikian, data ekonomi nasional menunjukkan resiliensi yang cukup baik dengan pertumbuhan ekonomi kuartal pertama 2026 mencapai 5,6 persen secara tahunan. Angka ini mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan periode sebelumnya yang berada di level 5,3 persen.

Dampak bagi Pelaku Usaha

Perubahan gaya hidup konsumen ini mulai dirasakan dampaknya oleh pelaku usaha di sektor makanan, minuman, hingga tempat hiburan. Beberapa gerai waralaba es krim yang sempat populer dilaporkan mengalami penurunan pengunjung, bahkan ada yang terpaksa menutup cabangnya di lingkungan perumahan.

Sektor hiburan seperti wahana permainan air atau waterpark juga mengalami tantangan serupa. Tempat-tempat ini biasanya hanya ramai pada periode libur sekolah atau libur panjang, sementara pada hari biasa hanya mengandalkan kunjungan kelompok studi tur sekolah.

"Sudah jarang (yang berkunjung), cuma waktu-waktu tertentu saja, seperti libur sekolah, libur pajang seperti sekarang ini. Kalau untuk anak-anak kelompok sekolah biasanya kita kasih diskon," kata seorang penjaga waterpark.

Kenaikan harga bahan baku juga menyulitkan pedagang kecil dalam menekan biaya produksi. Wina, seorang penjual sarapan, terpaksa mengganti kemasan kotak plastik menjadi styrofoam yang dialasi demi menjaga harga jual tetap terjangkau bagi pembelinya.

"Seperti harga plastik yang naik, dulu untuk pembungkus makanan saya pakai wadah plastik, sekarang saya memilih wadah styrofoam yang dialasi," kata Wina.

Loyalitas Penikmat Kopi

Menariknya, meskipun masyarakat cenderung berhemat, loyalitas terhadap merek tertentu tetap tinggi di sektor kopi. Hal ini terlihat pada kebijakan harga baru Kopi Tuku yang menaikkan menu Es Kopi Susu Tetangga dari Rp 18.000 menjadi Rp 25.000 mulai 24 April 2026.

"Harga boleh naik, tapi yang penting rasanya jangan berubah," ujar salah satu pelanggan setia Kopi Tuku.

Meskipun beberapa konsumen mengeluhkan kenaikan harga yang tidak dibarengi dengan promo, mereka tetap bersedia melakukan pembelian. Fenomena ini menunjukkan bahwa untuk produk tertentu, kualitas rasa masih menjadi pertimbangan utama di atas harga.

"Sudah harga naik tidak pernah ada promo, sakit hati, tapi tetap beli," lanjut pembeli lainnya.

Artikel terkait

Rekomendasi