Kecerdasan buatan atau AI kini tidak lagi sekadar urusan teknis, melainkan telah menjadi medan pertempuran filosofis yang mendalam. Dimitri Mahayana, pakar ICT dari STEI ITB, membedah fenomena ini melalui lensa pemikiran Michel Foucault dalam bagian kedua ulasannya.
Foucault memandang sejarah bukan sebagai progres kebebasan, melainkan arena di mana kekuasaan bersembunyi dengan rapi di balik klaim-klaim kebenaran. Bagi sang filsuf, tidak ada kebenaran yang bersifat netral atau murni karena setiap rezim kebenaran selalu merupakan hasil dari relasi kuasa.
Memahami Konsep Kuasa-Pengetahuan dalam Dunia AI
Salah satu fondasi pemikiran Foucault adalah nexus kuasa-pengetahuan atau pouvoir-savoir, yang menegaskan bahwa kekuasaan dan pengetahuan tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Sains dan teknologi bukanlah aktivitas yang bebas nilai, melainkan sarana utama bagi kekuasaan untuk beroperasi dan mendominasi.
Jika teori ini ditarik ke dalam realitas AI saat ini, muncul sebuah pertanyaan kritis yang menggugah kesadaran kolektif kita. Siapa sebenarnya yang berwenang mendefinisikan apa yang dianggap benar atau salah dalam model bahasa besar yang kini digunakan oleh miliaran manusia?
"Kebenaran adalah bagian dari dunia ini; ia diproduksi hanya berkat berbagai bentuk paksaan. Dan ia menginduksi efek kekuasaan yang teratur." — Michel Foucault, Power/Knowledge, 1980.
Pernyataan Foucault di atas menggarisbawahi bahwa informasi yang kita terima dari teknologi bukan sekadar data mentah yang objektif. Hal tersebut merupakan hasil dari konstruksi sistematis yang dipengaruhi oleh pihak-pihak yang memiliki kendali atas infrastruktur teknologi global.
Digital Panopticon dan Kapitalisme Pengawasan
Foucault sering menggunakan konsep Panopticon, sebuah desain penjara melingkar karya Jeremy Bentham, sebagai metafora masyarakat modern yang disiplin. Dalam desain tersebut, tahanan merasa selalu diawasi sehingga mereka mulai mengatur perilaku mereka sendiri tanpa perlu paksaan fisik yang nyata.
Di era digital, fenomena ini bertransformasi menjadi kapitalisme pengawasan di mana data perilaku manusia dikumpulkan untuk dijadikan komoditas ekonomi. Namun, ancaman utamanya bukan sekadar pencurian data, melainkan terciptanya rezim kebenaran baru yang sepenuhnya dikelola oleh algoritma milik korporasi besar.
Dampak nyata dari pengawasan algoritmik ini dapat dilihat pada beberapa aspek kehidupan berikut:
- Penentuan Skor Kredit: Algoritma secara sepihak menentukan status risiko finansial seseorang tanpa transparansi mengenai parameter yang digunakan.
- Sistem Rekrutmen Kerja: CV pelamar seringkali tersingkir oleh filter otomatis sebelum sempat dibaca oleh manusia berdasarkan definisi kualifikasi yang kaku.
- Personalisasi Konten: Pengguna terjebak dalam ruang gema yang memperkuat bias tertentu dan menutup perspektif yang berbeda secara sistematis.
Masalah ini jauh lebih dalam daripada sekadar bias teknis dalam barisan kode pemrograman. Ini adalah persoalan tentang siapa yang memiliki hak istimewa untuk membuat definisi dan kepentingan apa yang sebenarnya sedang diperjuangkan di baliknya.
Dominasi Narasi dan Ancaman Kekerasan Epistemik
Foucault menganalisis bagaimana kekuasaan bekerja dengan mengontrol narasi sejarah dan menentukan siapa yang berhak berbicara di ruang publik. Dalam konteks AI, model bahasa besar sebagian besar dilatih menggunakan data berbahasa Inggris yang mengikuti standar editorial dan kerangka geopolitik Barat.
Hal ini mengakibatkan perspektif media arus utama menjadi sangat dominan, sementara suara dari kelompok marginal seringkali hilang atau dianggap tidak sah. Suara korban yang tidak memiliki akses ke platform internasional atau menggunakan bahasa minoritas seringkali dikesampingkan dari data pelatihan.
Mekanisme ini disebut sebagai produksi ketidakhadiran, di mana kekuasaan bekerja dengan cara memastikan suara tertentu tidak pernah ada dalam wacana resmi. Ketika sistem AI mengoreksi kesaksian penyintas genosida berdasarkan "fakta" dominan dalam datanya, terjadilah sebuah kekerasan epistemik yang sangat halus.
Bahaya terbesar dari AI bukanlah kemampuannya untuk berbohong secara terang-terangan kepada penggunanya. Bahaya sesungguhnya adalah ketika AI, dengan segala ketulusan algoritmiknya, memantulkan tatanan dunia yang tidak adil seolah-olah hal tersebut adalah kebenaran alam semesta yang mutlak.
Oligopoli Epistemik: Yang Kuat Semakin Mendominasi
Dalam analisis genealogisnya, Foucault selalu mempertanyakan siapa yang paling diuntungkan dari sebuah sistem dan dengan cara seperti apa keuntungan itu diperoleh. Jawaban untuk pertanyaan ini dalam konteks pengembangan kecerdasan buatan memberikan gambaran masa depan yang cukup suram.
Terdapat tiga pilar utama yang dibutuhkan untuk mengembangkan model AI tingkat dunia:
| Sumber Daya Utama | Keterangan |
|---|---|
| Modal Finansial | Investasi triliunan rupiah untuk infrastruktur komputasi. |
| Data Masif | Akses terhadap kumpulan data berkualitas tinggi dalam jumlah besar. |
| Talenta Ahli | Ekosistem peneliti dan ilmuwan terbaik dari seluruh dunia. |
Penjelasan di atas menunjukkan bahwa pengembangan teknologi ini hanya bisa dilakukan oleh segelintir korporasi raksasa yang memiliki sumber daya tersebut. Konsentrasi ini menciptakan apa yang disebut sebagai oligopoli epistemik, di mana sedikit entitas mengontrol pengetahuan global.
Sistem ini bersifat memperkuat dirinya sendiri (self-reinforcing), di mana semakin banyak pengguna menggunakan layanan AI tertentu, semakin banyak data yang terkumpul. Hal ini membuat model tersebut semakin kuat dan mustahil bagi pesaing baru atau aktor kecil untuk bisa menandingi dominasi mereka.
Fenomena ini mencerminkan logika akumulasi kapital yang paling murni dalam sejarah modern manusia. Kini, kapitalisme tidak hanya menguasai sumber daya fisik, tetapi telah berhasil mengkolonisasi ranah produksi pengetahuan dan cara kita memahami kenyataan melalui mesin cerdas.