Kondisi operasional sektor manufaktur Indonesia mengalami penurunan ke zona kontraksi pada April 2026 akibat gangguan distribusi logistik dan kelangkaan bahan baku. Berdasarkan data S&P Global yang dilansir dari Ekonomi, Purchasing ManagersÔÇÖ Index (PMI) Manufaktur nasional merosot ke angka 49,1 pada Senin (4/5/2026).
Angka tersebut menunjukkan penurunan signifikan dari posisi 50,1 pada Maret sebelumnya. Penurunan di bawah ambang batas netral 50,0 ini merupakan kontraksi pertama bagi industri manufaktur dalam sembilan bulan terakhir, yang dipicu oleh ketidakpastian konflik geopolitik global.
"Sektor manufaktur Indonesia mulai merasakan tekanan inflasi yang semakin intensif di tengah perang Timur Tengah," ujar Usamah Bhatti, Ekonom S&P Global Market Intelligence.
Aktivitas produksi tercatat melambat dengan volume output yang mengalami kontraksi selama dua bulan berturut-turut. Laju penurunan ini disebut sebagai yang terdalam dalam kurun waktu hampir satu tahun terakhir karena perusahaan menghadapi berbagai kendala operasional.
"Perusahaan mencatat kontraksi solid pada output pada bulan April, dengan bukti anekdotal mengarah pada dampak kenaikan harga bahan baku dan kekurangan pasokan produksi," jelas Usamah Bhatti.
Meskipun terdapat kenaikan tipis pada permintaan baru, pertumbuhan tersebut didorong oleh langkah antisipatif konsumen terhadap potensi gangguan rantai pasok di masa depan. Pesanan dari pasar domestik masih menjadi penopang utama, sementara permintaan ekspor menunjukkan tren penurunan.
Laju inflasi biaya input melonjak ke level tertinggi dalam empat tahun terakhir akibat kelangkaan pasokan. Hal ini memaksa para produsen untuk menaikkan harga jual produk ke level tertinggi sejak Oktober 2013 guna menyeimbangkan beban biaya operasional.
"Biaya yang lebih tinggi dibebankan kepada klien, yang mengakibatkan kenaikan harga jual paling tajam dalam 12 setengah tahun terakhir," sebut Usamah Bhatti.
Data dari S&P Global juga menyoroti hambatan pengiriman dari pemasok yang telah berlangsung selama tujuh bulan berturut-turut. Keterlambatan logistik ini secara langsung mengganggu jadwal produksi dan memaksa perusahaan melakukan efisiensi dalam penggunaan stok bahan baku.
Di sektor tenaga kerja, industri manufaktur mulai melakukan pengurangan karyawan dengan tingkat moderat. Angka pemutusan hubungan kerja (PHK) pada periode ini tercatat sebagai yang tertinggi dalam sepuluh bulan terakhir, seiring dengan berkurangnya tumpukan pekerjaan.
"Perusahaan juga mengalami penurunan tenaga kerja dan pembelian dibandingkan dengan bulan sebelumnya," tutur Usamah Bhatti.
Pelaku industri dilaporkan tetap memiliki ekspektasi bahwa produksi akan membaik dalam satu tahun ke depan melalui rencana peluncuran produk baru. Namun, tingkat kepercayaan diri pelaku usaha kini berada di titik terendah dalam lima bulan terakhir akibat kekhawatiran terhadap durasi konflik internasional.
"Selain itu, optimisme menurun ke level terendah dalam lima bulan di tengah ketidakpastian tentang lamanya perang," jelas Usamah Bhatti.