Seorang mantan pejabat senior badan intelijen Amerika Serikat (AS) CIA bernama David Rush didakwa atas dugaan pencurian uang negara setelah meminta dana operasional dalam jumlah besar. Tindak pidana yang melibatkan penyalahgunaan izin akses tingkat rahasia tertinggi ini terungkap melalui dokumen pengadilan pada hari Kamis.
Aksi pemindahan aset negara ke kediaman pribadi Rush tersebut dilansir dari Media Indonesia berdasarkan laporan NBC. Jaksa di Pengadilan Distrik Timur Virginia mendakwa Rush yang terbukti menyimpan sebagian besar dana tersebut untuk keuntungan pribadi, meskipun ia berdalih uang itu digunakan demi keperluan dinas.
Aset dalam jumlah fantastis berhasil disita oleh agen federal saat melakukan penggeledahan di rumah Rush pada tanggal 18 Mei. Petugas menyita sekitar 300 emas batangan senilai lebih dari 40 juta dolar AS atau setara Rp713 miliar, uang tunai 2 juta dolar AS sekitar Rp35,7 miliar, serta 35 jam tangan mewah.
Kasus pemalsuan latar belakang pendidikan dan profesional yang dilakukan Rush selama bertahun-tahun juga ikut terbongkar di tengah bergulirnya proses penyidikan. Dalam dokumen pengadilan, Rush terbukti berbohong telah lulus dari Clemson University, Rensselaer Polytechnic Institute, US Naval Test Pilot School, hingga mengaku sebagai pilot Angkatan Laut AS.
Penyelidikan internal yang mendeteksi ketidakwajaran finansial ini segera ditindaklanjuti dengan pelimpahan berkas perkara ke penegak hukum eksternal. Direktur CIA John Ratcliffe menyerahkan temuan pelanggaran hukum tersebut kepada pihak kejaksaan dan FBI untuk pengusutan lebih lanjut.
"Setelah penyelidikan internal CIA mendapati dugaan pelanggaran hukum, Direktur CIA John Ratcliffe menyerahkan informasi tersebut kepada FBI untuk penyelidikan penegakan hukum," kata pihak CIA dan FBI dalam pernyataan bersama.
Respons cepat ini menjadi bagian dari komitmen penegakan keadilan yang dilakukan oleh kedua lembaga intelijen dan keamanan federal tersebut. Koordinasi intensif terus berjalan guna memastikan proses hukum terhadap mantan pejabat manajerial itu berjalan secara transparan.
"FBI bekerja sama erat dengan mitra kami di CIA dan Departemen Kehakiman seiring kami terus menyelidiki kasus ini secara menyeluruh. Kami berkomitmen mengikuti fakta, memastikan akuntabilitas, dan menegakkan keadilan sesuai hukum," kata pihak CIA dan FBI dalam pernyataan bersama.
Pemerintah AS kini mengandalkan program pemantauan otomatis bernama continuous vetting yang berada di bawah pengawasan Defense Counterintelligence and Security Agency serta Office of the Director of National Intelligence. Skandal ini memicu sorotan tajam terhadap efektivitas sistem pemeriksaan keamanan pegawai federal yang memegang informasi rahasia negara.