Umat Islam di berbagai daerah terus mengamalkan beragam jenis puasa sunnah pada Rabu, 15 April 2026, sebagai bentuk ketaatan dan upaya meraih manfaat kesehatan serta spiritual. Praktik ibadah di luar bulan Ramadan ini dilakukan untuk melatih pengendalian diri sekaligus mengikuti anjuran Rasulullah SAW.
Berdasarkan informasi yang dilansir dari Detikcom, puasa sunnah memiliki dampak signifikan pada kesehatan fisik dengan memberikan waktu istirahat bagi sistem pencernaan. Selain aspek medis, ibadah ini juga dinilai mampu membentuk sikap disiplin, kejujuran, serta menumbuhkan empati sosial terhadap sesama yang kurang mampu.
H. Ahmad Ahyar dan Ahmad Najibullah dalam buku Fikih Madrasah Tsanawiyah Kelas VIII merincikan beberapa jenis puasa yang umum dilaksanakan. Di antaranya adalah puasa Senin dan Kamis yang didasarkan pada hadits riwayat An-Nasa'i mengenai kebiasaan Rasulullah SAW memilih kedua hari tersebut untuk berpuasa.
Selain rutin mingguan, terdapat pula puasa tahunan seperti puasa Arafah yang dilaksanakan setiap 9 Zulhijah bagi umat yang tidak sedang melaksanakan ibadah haji. Keutamaan puasa ini disebut dapat menghapuskan dosa selama dua tahun, yakni satu tahun yang lalu dan satu tahun yang akan datang.
"Puasa hari Arafah itu menghapuskan dosa dua tahun, yaitu satu tahun yang telah lalu dan satu tahun yang akan datang," kata kutipan hadits riwayat Muslim yang menjadi dasar hukum pelaksanaan ibadah tersebut.
Jenis puasa sunnah lainnya meliputi puasa Syawal selama enam hari setelah Idul Fitri, puasa Asyura pada 10 Muharam, serta puasa Syaban. Rasulullah SAW tercatat paling banyak melakukan puasa sunnah pada bulan Syaban dibandingkan bulan-bulan lainnya di luar Ramadan.
Umat Islam juga dianjurkan melaksanakan puasa Ayyamul Bidh yang jatuh pada tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan Qamariyah. Tata cara pelaksanaan puasa sunnah ini secara umum sama dengan puasa wajib, yang membedakan hanyalah pada pembacaan niatnya.