Manajer investasi menerapkan strategi alokasi aset yang lebih fleksibel dan disiplin dalam pengelolaan risiko guna menghadapi pelemahan rupiah serta volatilitas pasar saham saat ini. Langkah penyesuaian ini dinilai penting demi menjaga kualitas portofolio investasi reksadana, seperti dilansir dari Investasi pada Selasa (19/5/2026).
Senior Vice President, Head of Retail, Product Research & Distribution Henan Putihrai Asset Management (HPAM) Reza Fahmi menjelaskan bahwa korelasi antar-aset saat ini cenderung meningkat. Kondisi tersebut membuat diversifikasi tradisional menjadi kurang efektif apabila portofolio terlalu terkonsentrasi pada satu kelas aset saja.
"Di tengah pelemahan rupiah, tekanan di pasar obligasi, dan volatilitas pasar saham, fokus investor idealnya tidak lagi semata mengejar return maksimal jangka pendek, tetapi lebih pada menjaga kualitas portofolio dan pengelolaan risiko secara disiplin," ujar Reza Fahmi, Senior Vice President, Head of Retail, Product Research & Distribution Henan Putihrai Asset Management (HPAM).
Menurut penjelasan Reza, strategi yang relevan saat ini adalah membangun eksposur multi-asset secara bertahap. Reksadana pasar uang dan pendapatan tetap berdurasi pendek dapat berfungsi sebagai jangkar stabilitas portofolio di tengah ketidakpastian suku bunga.
"Dalam konteks tersebut, reksadana campuran juga menjadi instrumen yang relevan karena memberi fleksibilitas kepada manajer investasi dalam menyesuaikan komposisi aset sesuai dinamika pasar," terang Reza Fahmi, Senior Vice President, Head of Retail, Product Research & Distribution Henan Putihrai Asset Management (HPAM).
Reza menambahkan bahwa investor harus mencermati faktor global seperti kebijakan suku bunga The Fed dan yield US Treasury. Dari dalam negeri, stabilitas rupiah, kondisi fiskal, serta arus dana asing menjadi indikator penentu pergerakan pasar ke depan.
"Secara keseluruhan, kondisi pasar saat ini menuntut investor untuk lebih disiplin dalam melakukan asset allocation dan menjaga horizon investasi tetap jangka menengah-panjang, karena keberhasilan investasi tidak hanya ditentukan oleh momentum pasar, tetapi juga oleh kualitas pengelolaan risiko dan konsistensi strategi investasi," pungkas Reza Fahmi, Senior Vice President, Head of Retail, Product Research & Distribution Henan Putihrai Asset Management (HPAM).
Pihak Henan Putihrai Asset Management memproyeksikan imbal hasil reksadana pasar uang berada di kisaran 3%ÔÇô4% per tahun, reksadana pendapatan tetap sebesar 4%ÔÇô6%, dan reksadana campuran sekitar 6%ÔÇô10%. Sementara itu, opsi investasi lain juga ditawarkan oleh pelaku industri lainnya.
Investment Specialist Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Dimas Ardhinugraha menyatakan bahwa reksadana dalam mata uang dolar AS dapat menjadi alternatif pilihan investasi. Mata uang dolar AS dinilai cenderung resilien di tengah fluktuasi pasar global.
"Dari sisi kelas aset, reksadana dalam dolar AS tersedia di berbagai kelas aset, mulai dari pasar uang, obligasi dan saham, dan menyajikan peluang diversifikasi kelas aset yang baik di tengah dinamika pasar," ujar Dimas Ardhinugraha, Investment Specialist Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI).
Dimas menilai reksadana saham offshore dalam mata uang dolar AS membuka peluang bagi investor untuk menikmati potensi pertumbuhan dari pasar luar negeri. Akumulasi reksadana saham disarankan dilakukan bertahap mengingat tingginya volatilitas jangka pendek.