LPEM FEB UI Proyeksi Bank Indonesia Naikkan Suku Bunga

LPEM FEB UI Proyeksi Bank Indonesia Naikkan Suku Bunga
Foto: Ilustrasi LPEM FEB UI Proyeksi Bank Indonesia Naikkan Suku Bunga.

Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia memproyeksikan Bank Indonesia akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,00% pada Rapat Dewan Gubernur Mei 2026. Langkah tersebut dilansir dari Nasional dinilai perlu guna meredam pelemahan rupiah yang menyentuh Rp 17.706 per dolar Amerika Serikat pada 19 Mei 2026.

Tekanan terhadap mata uang domestik tersebut dinilai semakin sulit dikendalikan jika hanya mengandalkan intervensi pasar valuta asing dan instrumen moneter non-suku bunga. Padahal, Bank Indonesia tercatat telah menggelontorkan cadangan devisa lebih dari US$ 10 miliar dalam empat bulan terakhir.

Pihak LPEM FEB UI menjelaskan bahwa instrumen seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia, Domestic Non-Deliverable Forward, dan Non-Deliverable Forward juga telah aktif digunakan. Namun, perluasan langkah stabilisasi dinilai tetap memerlukan penyesuaian BI Rate.

"Untuk memperluas langkah stabilisasi nilai tukar rupiah, Bank Indonesia perlu menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin ke 5,00% di Rapat Dewan Gubernur mendatang," ujar Jahen dalam laporannya, Senin (19/5/2026).

Wakil Direktur LPEM FEB UI Jahen Fachrul Rezki menambahkan bahwa kondisi ekonomi Indonesia saat ini masih tertolong oleh kebijakan domestik terkait energi. Kenaikan harga energi global akibat konflik internasional belum berdampak sepenuhnya pada inflasi dalam negeri.

"Di saat berbagai negara lain mengalami lonjakan inflasi yang drastis, Indonesia masih diuntungkan dari keputusan pemerintah untuk tidak menaikkan harga BBM bersubsidi," katanya.

Meskipun inflasi umum April 2026 turun menjadi 2,42% secara tahunan, tekanan fiskal dan ketidakpastian kebijakan domestik tetap membayangi persepsi investor. Secara year to date, rupiah telah melemah sebesar 5,50% akibat arus modal keluar dari pasar saham dan obligasi.

"Kondisi tersebut mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap risiko jangka pendek perekonomian domestik," katanya.

Di sisi lain, produk domestik bruto Indonesia pada Triwulan I-2026 sebenarnya menunjukkan ekspansi kuat dengan pertumbuhan 5,61% secara tahunan. Pertumbuhan ini ditopang oleh tingginya konsumsi rumah tangga selama Ramadan dan Idulfitri serta lonjakan pengeluaran pemerintah.

Namun, sektor eksternal mengalami moderasi dengan penurunan surplus perdagangan sebesar 49,1% menjadi US$ 5,55 miliar pada JanuariÔÇôMaret 2026. Penurunan ini dipicu oleh tingginya pertumbuhan impor akibat kenaikan harga minyak dan gas global.

Artikel terkait

Rekomendasi