PT Lotte Chemical Indonesia Usul Penghapusan Tarif Impor LPG

PT Lotte Chemical Indonesia Usul Penghapusan Tarif Impor LPG
Foto: Ilustrasi PT Lotte Chemical Indonesia Usul Penghapusan Tarif Impor LPG.

PT Lotte Chemical Indonesia (LCI) mengajukan permohonan kepada pemerintah untuk menghapus tarif impor LPG sebesar 5 persen pada Selasa (14/4/2026) di Jakarta. Langkah ini diambil untuk memperkuat daya saing industri petrokimia domestik di tengah gangguan pasokan bahan baku global.

Dilansir dari Detik Finance, beban tarif tersebut dinilai memberatkan perusahaan saat terjadi krisis pasokan akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Corporate Planning General Manager LCI, Lee Dae Lo, membandingkan kebijakan Indonesia dengan negara tetangga.

"Di negara lain seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand, tidak ada tarif impor bagi perusahaan yang mengimpor LPG dari luar negeri. Demi daya saing industri Indonesia, saya berharap agar tarif impor LPG sebagai bahan baku dapat diubah menjadi 0%," ujar Lee Dae Lo, Corporate Planning General Manager LCI.

Konflik geopolitik di Timur Tengah saat ini telah mengganggu stabilitas pasokan biji plastik nafta dan LPG yang menjadi komponen utama produksi. Dampaknya, LCI terpaksa menurunkan kapasitas operasional pabrik mereka yang berlokasi di Cilegon, Banten.

Fasilitas produksi di Cilegon tersebut merupakan pusat pengolahan bahan baku nafta menjadi berbagai produk petrokimia, mulai dari sektor hulu hingga hilir. Penurunan produksi ini berisiko menghambat ketersediaan produk petrokimia dasar di pasar nasional.

Selain relaksasi tarif, LCI mengharapkan dukungan nyata pemerintah dalam mengamankan ketersediaan stok biji plastik untuk industri dalam negeri. Perusahaan menyatakan dukungan terhadap rencana pemerintah untuk melakukan pengadaan pasokan dari negara mitra lain.

Pihak manajemen menekankan bahwa bantuan alokasi nafta dari pemerintah sangat krusial bagi keberlangsungan operasional pabrik. Saat ini, efisiensi biaya bahan baku menjadi faktor penentu utama agar produk lokal tetap kompetitif dibandingkan produk impor dari Asia Tenggara.

Artikel terkait

Rekomendasi