LPEM FEB UI Temukan Pengguna AdaKami Punya Literasi Keuangan Tinggi

LPEM FEB UI Temukan Pengguna AdaKami Punya Literasi Keuangan Tinggi
Foto: Ilustrasi LPEM FEB UI Temukan Pengguna AdaKami Punya Literasi Keuangan Tinggi.

Tingkat literasi keuangan pengguna layanan pinjaman daring AdaKami berada pada level yang relatif tinggi menurut hasil riset terbaru. Meski demikian, ditemukan adanya kerentanan perilaku yang berpotensi memengaruhi kondisi finansial mereka di masa depan.

Temuan tersebut dipaparkan oleh Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI). Kajian tersebut bertajuk Dampak Fintech Lending terhadap Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat Indonesia: Studi Kasus AdaKami, dilansir dari Suara.

Data riset menunjukkan bahwa mayoritas responden, yakni sebesar 89,2 persen, sudah memahami metode perhitungan bunga pinjaman. Selain itu, lebih dari 95 persen pengguna memiliki pengetahuan yang cukup mengenai biaya administrasi serta tenor pinjaman.

"Kalau kita lihat di sini memang yang sudah memiliki literasi keuangan ini lebih dari 80 persen di semua kelompok. Untuk kelompok AdaKami ini sedikit lebih tinggi dibandingkan kelompok lainnya, terutama dalam penghitungan bunga," ujar Akademisi LPEM FEB UI, Prani Sastiono.

Pencapaian literasi yang tinggi ini ternyata tidak menjamin perilaku keuangan yang sepenuhnya sehat. Prani menjelaskan bahwa masih ada kecenderungan sikap terlalu percaya diri atau overconfidence di kalangan pengguna pinjaman digital tersebut.

Tercatat sekitar 16 persen responden merasa yakin bisa melunasi utang tepat waktu tanpa melakukan perhitungan matang terhadap kemampuan bayar mereka. Fenomena ini menjadi perhatian karena berkaitan dengan stabilitas keuangan personal.

Selain itu, terdapat fakta bahwa 73 persen responden mengaku memahami syarat dan ketentuan layanan. Namun, pengakuan tersebut sering kali dilakukan tanpa membaca detail dokumen perjanjian secara mendalam sebelum menyetujui pinjaman.

Kecenderungan Keuntungan Jangka Pendek

Riset ini juga menyoroti adanya perilaku present-biased atau orientasi pada keuntungan jangka pendek. Sekitar 14 persen pengguna mengaku tergiur membeli barang saat melihat diskon, yang kemudian memicu penggunaan layanan pinjaman.

Sebanyak 7 persen responden bahkan bersedia membayar biaya ekstra agar dana pinjaman bisa cair lebih cepat. Ada pula ketertarikan pada investasi dengan janji imbal hasil tinggi walaupun memiliki profil risiko yang sangat besar.

"Hal ini tentu saja punya risiko terhadap kemampuan membayar dan juga kesejahteraan dan keberlanjutan dari keuangan rumah tangga," kata Prani.

Penguatan Edukasi dan Peran Regulator

LPEM FEB UI merekomendasikan kepada regulator, asosiasi, dan pelaku industri untuk terus memperkuat edukasi pengelolaan keuangan. Langkah ini penting untuk menjaga keberlanjutan ekosistem fintech lending di Indonesia.

Direktur Eksekutif Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI), Yasmine Sembiring, menanggapi bahwa pihaknya telah aktif mengedukasi pengguna sepanjang tahun lalu. Ia menekankan pentingnya menjaga catatan kredit bagi para peminjam.

"Gerakan galbay itu juga terus kami edukasikan kepada para pengguna agar tidak sekali-kali menggunakannya. Apalagi saat ini data mereka sudah tercatat dalam Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK), sehingga rapor keuangannya akan terlihat. Kalau tidak dimanfaatkan dengan baik, (kondisi) ini malah akan jadi backfire," ujar Yasmine.

Sepanjang tahun 2025, AFPI tercatat telah melaksanakan sekitar 700 kegiatan edukasi. Program tersebut difokuskan pada peningkatan kesehatan finansial masyarakat serta upaya pencegahan agar pengguna tidak terjebak dalam praktik gagal bayar.

Artikel terkait

Rekomendasi