Lippo Karawaci Rombak Manajemen dan Angkat Bambang Soesatyo Jadi Komisaris

Lippo Karawaci Rombak Manajemen dan Angkat Bambang Soesatyo Jadi Komisaris
Foto: Ilustrasi Lippo Karawaci Rombak Manajemen dan Angkat Bambang Soesatyo Jadi Komisaris.

PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) melakukan perombakan besar-besaran pada jajaran manajemen puncaknya dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) 2026. Langkah strategis ini diambil sebagai upaya memperkuat koordinasi regulasi dan memperluas keahlian investasi perusahaan.

Dilansir dari Investortrust, perusahaan real estate dan layanan kesehatan ini menunjuk mantan Ketua DPR RI dan MPR RI, Bambang Soesatyo, sebagai Komisaris Independen baru. Kehadiran tokoh politik senior yang akrab disapa Bamsoet ini diharapkan dapat memperkuat posisi perusahaan dalam menavigasi kebijakan regulasi nasional.

Selain itu, LPKR juga mengangkat Indra Yuwana sebagai Direktur Utama yang baru. Indra Yuwana merupakan alumnus Columbia University yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur Investasi di Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) serta pernah memegang posisi penting di LippoLand.

Indra Yuwana menggantikan posisi Marlo Budiman yang telah menyatakan mundur dari jabatan direktur utama pada awal tahun 2026. Pada jajaran dewan komisaris, masuknya Bambang Soesatyo dilakukan setelah mundurnya Anangga W. Roosdiono dari posisi tersebut.

Corporate Secretary LPKR, Ratih Safitri, menegaskan bahwa pergantian kepemimpinan ini bersifat murni strategis bagi masa depan perseroan. Manajemen memastikan tidak ada dampak material terhadap aktivitas operasional, kedudukan hukum, maupun kondisi finansial perusahaan.

Perubahan struktur kepemimpinan ini terlaksana di tengah tren pemulihan finansial LPKR yang kuat. Sepanjang tahun fiskal 2025, perusahaan berhasil mencatatkan pendapatan total mencapai Rp 9,03 triliun dengan perolehan EBITDA sebesar Rp 1.37 trillion.

Laba bersih inti LPKR dilaporkan melonjak signifikan sebesar 57 persen menjadi Rp 630 miliar pada tahun 2025. Pertumbuhan ini mencerminkan keberhasilan penerapan model operasional yang jauh lebih efisien dan ramping oleh manajemen perusahaan.

CEO LPKR, John Riady, menjelaskan bahwa performa impresif perusahaan disokong oleh keseimbangan strategi produk mereka. Penjualan properti masih menjadi motor utama dengan capaian pra-penjualan atau marketing sales sebesar Rp 5,32 triliun.

"Strategi rumah terjangkau kami, yang dilengkapi dengan penawaran segmen premium, telah mendorong kinerja pra-penjualan yang kuat," kata John Riady dalam rilis pers resmi.

John Riady juga menambahkan mengenai langkah efisiensi yang sedang berjalan di internal korporasi saat ini.

"Inisiatif pengurangan utang juga secara signifikan memperkuat struktur modal perusahaan," ujar John Riady.

Sektor real estate menyumbang pertumbuhan tertinggi dengan kenaikan pendapatan 52 persen secara tahunan menjadi Rp 7,67 triliun. Capaian ini didorong oleh serah terima unit yang tepat waktu pada proyek utama seperti Park Serpong dan Treetops Livin.

Sementara itu, pendapatan dari sektor gaya hidup yang mencakup mal dan hotel tercatat mencapai Rp 1.37 triliun. Sektor ini mengalami kenaikan EBITDA sebesar 16 persen seiring kembalinya tingkat okupansi hotel dan kunjungan penyewa ke level sebelum pandemi.

Memanfaatkan posisi kas yang kuat sebesar Rp 1.96 triliun, manajemen kini berfokus mengoptimalkan struktur modal dan menurunkan liabilitas. LPKR saat ini tengah mengajukan persetujuan pemegang saham untuk melaksanakan program pembelian kembali atau buyback saham perusahaan.

Artikel terkait

Rekomendasi