Organisasi pelestari budaya Senapati Nusantara memberikan dukungan penuh pada acara Sarasehan dan Pameran Seni Budaya Tosan Aji di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah. Kehadiran organisasi ini menjadi bentuk komitmen nyata dalam menjaga kelestarian warisan leluhur di tanah air.
Acara tersebut berlangsung pada tanggal 22 hingga 24 Mei 2026 yang berlokasi di Toili Garden Heritage, Kecamatan Toili. Paguyuban Reksa Aji Benggawi bertindak sebagai penyelenggara utama kegiatan budaya yang sarat makna ini.
Senapati Nusantara mengutus Wakil Sekretaris Jenderal mereka, Nurjianto atau yang lebih populer disapa Gus Poleng, untuk hadir secara langsung. Kehadirannya mewakili semangat kolaborasi antar-daerah dalam menjaga benda-benda bersejarah milik bangsa.
Perhelatan ini dilaksanakan bertepatan dengan momentum peringatan Hari Kebangkitan Nasional. Suasana peringatan tersebut dimanfaatkan sebagai ruang temu bagi para pemerhati dan praktisi pelestari budaya Nusantara.
Dalam pameran tersebut, masyarakat dapat melihat langsung berbagai koleksi benda pusaka yang sangat bernilai. Koleksi yang ditampilkan meliputi keris, tombak, hingga ragam benda tosan aji lainnya dengan nilai historis tinggi.
Upaya memamerkan pusaka ini bertujuan untuk memperkenalkan kekayaan nilai budaya kepada masyarakat luas. Target utamanya adalah generasi muda agar mereka lebih mengenal akar identitas bangsa sendiri.
Gus Poleng menyampaikan apresiasi yang sangat tinggi terhadap inisiatif yang dilakukan oleh Paguyuban Reksa Aji Benggawi. Ia memandang sarasehan dan pameran ini sebagai langkah konkret dalam menjaga keberlanjutan warisan leluhur.
Menurutnya, kegiatan budaya seperti ini sangat penting di tengah tekanan arus modernisasi yang kian kencang. Gus Poleng menekankan bahwa tosan aji memiliki kedudukan yang lebih dari sekadar benda kuno biasa.
Di dalam sebilah tosan aji, terkandung nilai filosofis, aspek spiritualitas, serta rekaman sejarah yang sangat panjang. Hal ini menjadikan benda pusaka tersebut sebagai simbol identitas bangsa yang diwariskan secara turun-temurun.
Pelestarian warisan ini membutuhkan sinergi dari berbagai elemen masyarakat agar tidak hilang ditelan zaman. Peran generasi penerus sangat krusial dalam menjamin keberlangsungan kebudayaan ini di masa depan.
“Senapati Nusantara mendukung penuh kegiatan seperti ini sebagai ruang edukasi dan penguatan karakter. Kami berharap sinergi antara pemerintah, komunitas, dan masyarakat terus terjalin agar budaya tidak hanya lestari, tetapi juga menjadi kebanggaan bersama,” ujar Gus Poleng.
Bupati Banggai yang turut hadir dalam acara tersebut juga menyuarakan hal senada mengenai pentingnya kolaborasi. Ia menegaskan bahwa upaya menjaga budaya tidak mungkin bisa dilakukan oleh satu pihak saja.
Dibutuhkan kerja sama yang harmonis antara pemerintah daerah, masyarakat umum, serta berbagai komunitas budaya. Pemerintah Kabupaten Banggai sendiri terus berupaya memperkuat jati diri daerah melalui program-program strategis.
Salah satu langkah nyata yang diusung oleh pemerintah setempat adalah program unggulan bernama Gerbang Berbudaya. Program ini dirancang untuk memastikan identitas lokal tetap terjaga dan dihormati oleh warganya.
Bupati juga memberikan motivasi khusus kepada para pemuda di Kabupaten Banggai agar tidak rendah diri terhadap budayanya. Beliau mengajak generasi muda untuk aktif mempelajari dan mencintai tradisi asli yang dimiliki bangsa Indonesia.
Budaya dipandang sebagai fondasi utama dalam pembentukan karakter serta kekuatan jati diri sebuah negara. Melalui pameran ini, diharapkan kesadaran kolektif untuk menjaga tosan aji semakin tumbuh di hati masyarakat.
Informasi Mengenai Agenda Pelestarian Budaya :
- Lokasi Kegiatan: Toili Garden Heritage, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah.
- Waktu Pelaksanaan: Tanggal 22 hingga 24 Mei 2026.
- Pihak Terlibat: Senapati Nusantara, Paguyuban Reksa Aji Benggawi, dan Pemerintah Kabupaten Banggai.
- Tujuan Utama: Edukasi nilai filosofis tosan aji dan penguatan karakter generasi muda.
- Koleksi Pameran: Keris, tombak, dan berbagai jenis benda pusaka tosan aji lainnya.
Daftar poin di atas merangkum rincian penting terkait pelaksanaan sarasehan budaya yang berhasil menarik perhatian publik tersebut. Fokus utamanya tetap pada edukasi dan pelestarian identitas lokal melalui benda pusaka.
Dukungan juga datang dari Ir. Sugianto Tamoreka selaku tokoh masyarakat terkemuka di Banggai. Beliau memberikan penilaian positif terhadap langkah yang diambil oleh Paguyuban Reksa Aji Benggawi dalam mengadakan pameran ini.
Sugianto berharap kegiatan positif semacam ini tidak berhenti sampai di sini saja dan bisa terus berkelanjutan. Ia ingin lebih banyak pihak yang terlibat agar kebanggaan terhadap warisan budaya semakin meluas.
Di sisi lain, Paguyuban Reksa Aji Benggawi menegaskan bahwa tosan aji adalah bagian tak terpisahkan dari leluhur Banggai. Komitmen mereka tetap teguh untuk memposisikan budaya sebagai benteng utama dalam menghadapi zaman.
Bagi mereka, tosan aji merupakan simbol peradaban yang memadukan nilai historis dengan kedalaman spiritual. Keberadaannya harus terus dikembangkan melalui metode edukasi yang relevan bagi generasi mendatang.
Paguyuban ini juga terus mendorong terciptanya kolaborasi yang lebih luas dengan komunitas budaya di tingkat nasional. Tujuannya adalah agar tradisi tosan aji tetap hidup dan dinamis mengikuti perkembangan dunia modern.
Ringkasan Peran Pihak Terkait :
| Pihak Terkait | Peran dan Kontribusi |
|---|---|
| Senapati Nusantara | Memberikan dukungan nasional dan penguatan jejaring pelestari. |
| Pemkab Banggai | Menyediakan dukungan kebijakan melalui program "Gerbang Berbudaya". |
| Reksa Aji Benggawi | Penyelenggara teknis dan pusat edukasi tosan aji di daerah. |
| Tokoh Masyarakat | Memberikan dukungan moral dan mendorong partisipasi generasi muda. |
Tabel tersebut menunjukkan bagaimana setiap elemen memiliki peran penting dalam menjaga ekosistem budaya di Sulawesi Tengah. Sinergi ini menjadi kunci utama agar warisan nusantara tidak terlupakan oleh zaman.
Kehadiran perwakilan Senapati Nusantara dari Yogyakarta ke Sulawesi Tengah mempertegas kuatnya persaudaraan antar-pelestari. Hubungan ini menjadi jembatan untuk saling bertukar ilmu dan pengalaman dalam merawat benda pusaka.
Pada akhirnya, kegiatan ini bukan sekadar pameran benda mati, melainkan sebuah perayaan atas nilai-nilai luhur bangsa. Semangat yang dibawa oleh Gus Poleng dan para pelestari di Banggai menjadi inspirasi bagi daerah lainnya.