World Benchmarking Alliance (WBA) melaporkan bahwa mayoritas lembaga keuangan global belum memiliki rencana kuat untuk menghentikan pendanaan bahan bakar fosil. Berdasarkan data yang dilansir dari Lestari pada Kamis (14/5/2026), dukungan finansial terhadap aktivitas rendah karbon baru mencapai 2,7 persen dari total aktivitas yang didanai.
Penilaian Iklim Sistem Keuangan terbaru ini menganalisis 400 lembaga keuangan paling berpengaruh di dunia, termasuk nama-nama besar seperti Allianz, BlackRock, dan HSBC. Dari jumlah tersebut, sebanyak 146 perusahaan atau lebih dari sepertiga organisasi telah mulai menyusun rencana transisi iklim untuk sebagian aktivitas keuangan mereka.
Kondisi ini menunjukkan bahwa dua dari setiap tiga perusahaan masih mengabaikan perencanaan transisi. Situasi semakin kritis karena hanya seperempat dari total perusahaan yang menetapkan target emisi jika turut menghitung proyek-proyek yang mereka danai.
Data regional memperlihatkan kesenjangan alokasi dana untuk aktivitas rendah karbon. Lembaga di Eropa dan Asia Tengah memimpin dengan alokasi 3,6 persen, sementara wilayah Asia Timur dan Pasifik tercatat paling rendah dengan kontribusi hanya sebesar 1 persen.
Dalam hal jenis lembaga, bank menunjukkan progres lebih baik dengan target waktu pendanaan solusi rendah karbon yang selaras dengan batas pemanasan 1,5 derajat Celsius. Sebaliknya, kurang dari 3 persen pengelola aset yang memiliki komitmen serupa dalam rencana transisi mereka.
Laporan tersebut menggarisbawahi bahwa hanya dua lembaga, yakni ING asal Belanda dan Z├╝rcher Kantonalbank dari Swiss, yang memiliki pembatasan bahan bakar fosil secara ketat. Keduanya berkomitmen menghapus pendanaan fosil bertahap serta menghentikan alokasi modal baru.
Ketergantungan pada sektor fosil dinilai meningkatkan kerentanan lembaga keuangan terhadap ketidakpastian pasar akibat krisis minyak dan gas global di Timur Tengah. Direktur WBA menekankan pentingnya rencana transisi untuk menjaga stabilitas ekonomi dunia.
"Krisis bahan bakar fosil yang terus berulang menunjukkan betapa pentingnya rencana transisi bagi stabilitas ekonomi dunia," kata Pauliina Murphy, perwakilan dari WBA.
Menurutnya, percepatan pemulihan ekonomi dunia sangat bergantung pada keputusan lembaga keuangan dalam mengalihkan modal ke solusi ramah lingkungan. Landasan untuk mencapai target suhu global kini semakin terbentuk seiring meningkatnya transparansi informasi dari sejumlah lembaga.
Lembaga keuangan yang mengambil langkah awal untuk memperkuat keterbukaan diprediksi akan memiliki keunggulan kompetitif di tengah tekanan pasar dan pemerintah. Tantangan saat ini adalah menyelaraskan kebijakan penghentian bahan bakar fosil dengan realisasi penyaluran dana di lapangan.