PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) berhasil mencatatkan pertumbuhan laba bersih yang signifikan sebesar 34 persen sepanjang tahun fiskal 2025. Dilansir dari Investortrust, perusahaan raksasa bahan baku baterai ini meraup laba senilai $100,51 juta, meningkat tajam dibandingkan perolehan periode sebelumnya yang sebesar $79,50 juta.
Lonjakan profitabilitas ini dinilai menarik lantaran terjadi di tengah penurunan pendapatan total perusahaan dari $1,84 miliar menjadi $1,43 miliar. Fenomena tersebut menunjukkan adanya pergeseran strategi manajemen yang lebih berfokus pada pengendalian biaya dan operasional dengan margin keuntungan lebih tinggi.
Manajemen MBMA tercatat sukses memangkas beban pokok pendapatan secara drastis dari $1,72 miliar menjadi $1,26 miliar. Langkah efisiensi ini efektif menjaga margin laba kotor tetap kuat meskipun volume penjualan untuk beberapa produk dengan margin rendah mengalami penurunan.
Penurunan pendapatan sebesar $453 juta sebagian besar disebabkan oleh pengurangan skala penjualan High-Grade Nickel Matte (HGNM) untuk sementara waktu. Perusahaan memilih mengalihkan fokus pada operasi Nickel Pig Iron (NPI) yang memberikan margin keuntungan lebih menarik bagi korporasi.
Meskipun demikian, produksi HGNM kembali dilanjutkan pada Oktober 2025 setelah perusahaan berhasil mengamankan kontrak yang lebih menguntungkan secara ekonomi. Sektor tambang SCM juga memberikan kontribusi positif dengan kenaikan penjualan bijih limonit sebesar $75 juta yang memitigasi kendala operasional di fasilitas smelter.
Kinerja ini dianggap sebagai indikator penting bagi industri nikel Indonesia yang sedang bertransformasi menjadi pusat teknologi rantai pasok baterai kendaraan listrik (EV) dunia. Kemampuan MBMA dalam mempertahankan margin melalui penghematan biaya menunjukkan kematangan strategi industri di tengah fluktuasi harga komoditas global.
Target Ambisius Produksi Tahun 2026
Memasuki tahun fiskal 2026, MBMA menetapkan target produksi dan biaya yang cukup agresif untuk memperkuat posisi pasar. Perusahaan menargetkan produksi NPI berada di kisaran 70.000 hingga 80,000 ton dengan ambisi menjaga biaya tunai di bawah $10.500 per ton.
Faktor kunci dalam mencapai efisiensi ini adalah optimalisasi tambang SCM guna mengejar target swasembada bijih nikel hingga 100 persen. Selain itu, manajemen memproyeksikan output HGNM mampu mencapai angka 44.000 hingga 48.000 ton dengan biaya yang ditekan di bawah $13.500 per ton nikel.
Ekspansi ke Sektor Mixed Hydroxide Precipitate
Fokus strategis MBMA berikutnya tertuju pada pengembangan Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) melalui fasilitas High-Pressure Acid Leaching (HPAL) PT ESG. Produk ini merupakan komponen kritikal bagi prekursor baterai kendaraan listrik yang permintaannya terus melonjak di pasar internasional.
Fasilitas tersebut ditargetkan mampu menghasilkan 27.000 hingga 30.000 ton MHP pada tahun 2026, meski realisasinya masih menunggu persetujuan rencana kerja dan anggaran (RKAB) dari pemerintah. Di sisi lain, proyek HPAL PT SLNC dilaporkan telah mencapai progres pembangunan 83 persen pada akhir tahun lalu.
Seiring dengan rilis kinerja keuangan tersebut, perusahaan juga mengumumkan penunjukan Teddy Nuryanto Oetomo sebagai Direktur Utama menggantikan Devin Antonio. Kepemimpinan baru ini mengemban mandat untuk mentransformasi basis sumber daya MBMA menjadi mesin pertumbuhan yang ramping dan bermargin tinggi.
Analisis Nilai Wajar Saham
Berdasarkan data pasar per 31 Maret 2026, saham MBMA diperdagangkan pada level Rp 695, yang menunjukkan adanya celah antara harga pasar dengan nilai intrinsik perusahaan. Estimasi rata-rata dari sembilan analis memberikan target harga di angka Rp 797,54 atau terdapat potensi kenaikan sekitar 14,7 persen.
Model kuantitatif InvestingPro bahkan menunjukkan potensi kenaikan yang lebih agresif dengan nilai wajar diperkirakan mencapai Rp 782,10. Meskipun sempat mengalami volatilitas dalam beberapa tahun terakhir, momentum pertumbuhan laba bersih dan EBITDA yang mencapai Rp 3,18 triliun diharapkan menjadi katalis positif bagi pergerakan saham ke depan.