Laba Konsolidasi Bank Mandiri Melonjak 16,6 Persen pada Kuartal I 2026

Laba Konsolidasi Bank Mandiri Melonjak 16,6 Persen pada Kuartal I 2026
Foto: Ilustrasi Laba Konsolidasi Bank Mandiri Melonjak 16,6 Persen pada Kuartal I 2026.

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) membukukan pertumbuhan laba konsolidasi sebesar 16,6% secara year on year (yoy) menjadi Rp 15,4 triliun hingga kuartal I 2026, seperti dilansir dari Investortrust.

Direktur Utama Bank Mandiri Riduan mengungkapkan, peningkatan laba konsolidasi tersebut salah satunya didorong oleh penyaluran kredit secara bank only sebesar Rp 1.530,16 triliun pada kuartal I 2026.

"Hingga kuartal I tahun 2026, total kredit Bank Mandiri tumbuh 17,4% secara year on year, hampir dua kali lipat secara relatif terhadap pertumbuhan dari industri," ujarnya.

Rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) gross bank only berada di level 0,98% pada kuartal I 2026, atau membaik 3 bps YoY dengan NPL Coverage Ratio di level 245%.

"NPL Bank Mandiri berada jauh di bawah rata-rata industri perbankan. Hal ini menegaskan komitmen Bank Mandiri dalam mengelola risiko serta mengedepankan kualitas pertumbuhan yang sehat," katanya.

Fokus sinergi dijalankan melalui penguatan kemitraan UMKM, ekonomi kreatif, serta perluasan ekosistem digital nasional.

"Bank Mandiri mengedepankan semangat Sinergi Majukan Negeri melalui penguatan sinergi UMKM dan ekonomi kreatif, serta sinergi ekosistem digital. Kinerja yang kami hasilkan bukan hanya mencerminkan pertumbuhan bisnis semata, tetapi merupakan hasil nyata dari fokus sinergi yang melibatkan berbagai unsur perekonomian nasional, sejalan dengan komitmen kami untuk terus menjadi kontributor utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional," ujar ia.

Penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) Bank Mandiri tumbuh 21,1% dari Rp 1.383,79 triliun pada kuartal I 2025 menjadi Rp 1.675,22 triliun di periode yang sama tahun ini.

"Sementara industri tumbuh pada level 13,2%. Hal ini turut menunjukkan bahwa Bank Mandiri mampu menjaga kepercayaan nasabah dengan baik, sehingga dapat menghasilkan pengelolaan likuiditas yang stabil dan berkelanjutan," ucapnya.

Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini mengatakan, total DPK tersebut ditopang oleh dana murah atau current account and saving account (CASA) yang menggenggam pangsa 71,71%.

"Bank Mandiri mencatatkan pertumbuhan CASA yang solid mencapai sekitar Rp 1.201,25 triliun dan tumbuh 12,7% secara tahunan. Pencapaian ini mencerminkan keberhasilan strategi funding kami sekaligus memberikan sinyal likuiditas di industri yang semakin membaik dengan struktur dana yang semakin efisien dan stabil," ujarnya.

Rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) berada di angka 58% pada kuartal I 2026, menurun 3,47 pts dibanding periode yang sama 2025 yakni 61,5%.

"Hal ini juga menunjukkan disiplin biaya yang terjaga serta semakin optimalnya leverage dari kapasitas digital dan skala bisnis," katanya.

Pertumbuhan positif ini mengerek kenaikan total aset Bank Mandiri sebesar 17,4% dari Rp 1.919,66 triliun pada kuartal I 2025 menjadi Rp 2.254,42 triliun di periode yang sama tahun ini.

"Didukung likuiditas yang kuat, efisiensi yang meningkat, serta permodalan yang solid," ucapnya.

Bank Mandiri mendukung program prioritas nasional yang mencakup Kredit Usaha Rakyat (KUR), Program 3 Juta Rumah, Makan Bergizi Gratis, serta Koperasi Desa Merah Putih.

Realisasi KUR mencapai Rp11 triliun hingga kuartal I 2026 untuk 87 ribu pelaku UMKM, sedangkan layanan Virtual Account digunakan oleh 6.000 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Perseroan juga membiayai 2.300 unit hunian Program 3 Juta Rumah (FLPP) dan mendukung 80 ribu Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih.

"Bank Mandiri secara aktif berperan sebagai mitra strategis pemerintah dalam memastikan berbagai program nasional berjalan efektif dan memberikan dampak langsung kepada sektor riil serta masyarakat luas," ujar Riduan.

Penguatan Ekosistem Digital

Aplikasi LivinÔÇÖ by Mandiri kini memiliki 39 million pengguna terdaftar, tumbuh 27% YoY, dengan frekuensi transaksi mencapai 1,24 miliar transaksi.

Layanan Kopra by Mandiri melayani 335 ribu pengguna dengan 85% di antaranya pelaku UMKM, sementara LivinÔÇÖ Merchant digunakan oleh 3,3 juta merchant terdaftar.

"Seluruh kapabilitas digital Bank Mandiri sejatinya merupakan sarana untuk Bank Mandiri dapat menjangkau nasabah dengan efektif dan efisien secara operasional, bahkan hingga ke pulau-pulau terluar, mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat yang inklusif," jelas Novita.

Penggerak Pertumbuhan Berkelanjutan

Wakil Direktur Utama Bank Mandiri Henry Panjaitan menuturkan, portofolio pembiayaan berkelanjutan per Maret 2026 tercatat sebesar Rp 320 triliun, tumbuh 8,8% YoY.

Portofolio tersebut terdiri dari pembiayaan hijau sebesar Rp 167 triliun yang meningkat 12,6% YoY serta portofolio sosial sebesar Rp 153 triliun naik 5,1% secara tahunan.

Perseroan mencatatkan pembiayaan baru Rp 3,6 triliun di sektor green building, Rp 5,2 triliun di pengelolaan SDA hayati, serta alokasi penuh dana Green Bond Tahap II sebesar Rp 5 triliun.

Integrasi ESG juga dilakukan pada operasional lewat kendaraan listrik, panel surya, carbon tracking, serta rencana peluncuran Sertifikat Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca (SPE-GRK) di fitur LivinÔÇÖ Planet.

"Dengan kinerja dan fundamental yang solid tersebut, kami optimis kedepannya Bank Mandiri akan dapat menghasilkan kontribusi positif dan signifikan, dalam memperkuat industri perbankan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan," pungkas Henry.

Artikel terkait

Rekomendasi