PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangan yang positif pada tiga bulan pertama tahun 2026. Emiten milik konglomerat Anthoni Salim tersebut berhasil mengantongi laba bersih senilai Rp2,95 triliun.
Pencapaian laba periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk ini mengalami kenaikan sebesar 8,6% secara tahunan (year-on-year/YoY). Dikutip dari Market, angka ini tumbuh dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp2,72 triliun.
Pertumbuhan laba tersebut sejalan dengan realisasi penjualan bersih perseroan yang mencapai Rp33,89 triliun pada kuartal I/2026. Nilai ini menunjukkan peningkatan sebesar 7,4% YoY dari sebelumnya Rp31,55 triliun pada Maret 2025.
Segmen produk konsumen bermerek masih menjadi tumpuan utama pendapatan Indofood dengan kontribusi mencapai Rp21,49 triliun. Posisi berikutnya ditempati oleh segmen Bogasari yang menyumbang pendapatan sebesar Rp8,54 triliun.
Selain itu, unit bisnis agribisnis memberikan kontribusi senilai Rp4,91 triliun, diikuti oleh segmen distribusi yang membukukan pendapatan Rp2,11 triliun hingga akhir Maret 2026.
Kenaikan volume penjualan diikuti oleh pembengkakan beban pokok penjualan menjadi Rp22,73 triliun per Maret 2026. Angka beban ini naik signifikan dibandingkan posisi Maret 2025 yang tercatat sebesar Rp20,66 triliun.
Meskipun beban pokok meningkat, Indofood masih mampu membukukan kenaikan laba bruto sebesar 2,49%. Laba bruto perseroan tercatat sebesar Rp11,15 triliun, naik tipis dari posisi tahun sebelumnya di angka Rp10,88 triliun.
Peningkatan Laba Per Saham dan Posisi Aset
Keberhasilan INDF dalam menggenjot laba bersih turut memberikan dampak positif bagi pemegang saham. Laba per saham perseroan meningkat menjadi Rp337 pada kuartal I/2026, dari sebelumnya Rp310 per lembar saham.
Dari sisi posisi keuangan, total aset Indofood tercatat mencapai Rp226,51 triliun pada akhir Maret 2026. Realisasi ini menunjukkan tren penguatan dibandingkan posisi Desember 2025 yang senilai Rp217,98 triliun.
Total liabilitas perusahaan juga mengalami kenaikan menjadi Rp100,93 triliun pada 30 Maret 2026. Sebagai perbandingan, jumlah kewajiban perseroan pada periode yang sama tahun lalu berada di angka Rp97,74 triliun.
Ekuitas perseroan pun terpantau naik menjadi Rp125,57 triliun per Maret 2026 dari posisi Rp120,23 triliun pada akhir tahun lalu. Kenaikan modal ini dipicu oleh pertumbuhan saldo laba yang belum ditentukan penggunaannya.
| Indikator Keuangan | Kuartal I/2025 (Triliun Rp) | Kuartal I/2026 (Triliun Rp) |
|---|---|---|
| Penjualan Bersih | 31,55 | 33,89 |
| Beban Pokok Penjualan | 20,66 | 22,73 |
| Laba Bruto | 10,88 | 11,15 |
| Laba Bersih | 2,72 | 2,95 |
| Total Aset | 217,98 (Des 25) | 226,51 |